SBY-JK: Bisakah Bersama Terus?

Oleh: Prof. Dr. Indria Samego
Profesor Riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Pada umumnya publik ragu terhadap efektivitas duet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Jusuf Kala (JK) dalam beberapa bulan ke depan.

Meski dari yang bersangkutan atau para stafnya mengatakan sebaliknya, sulit untuk dihindari bahwa kebersamaan antara kedua pemimpin dari partai politik yang berbeda itu pada akhirnya akan menghadapi tantangan yang sesungguhnya, yakni persiapan untuk menghadapi pemilu legislatif April mendatang dan pemilu eksekutif (pilpres-wapres) beberapa bulan berikutnya, Juli 2009.

Bagaimana mungkin slogan “Bersama Kita Bisa” mesti dipertahankan kalau dalam kenyataannya kedua tokoh tersebut harus juga memikirkan masa depan karier politik masing-masing? Apalagi setelah terjadi pertemuan Imam Bonjol antara JK dengan Ketua PDIP Megawati Soekarnoputeri, harmoni Duet SBY-JK makin terusik saja.

Ketika wakil presiden bukan lagi jabatan yang tergantung pada kehendak orang nomor satu di negeri ini, sudah selayaknya jika dia berusaha sama kerasnya dengan presiden untuk mendapatkan dukungan pemilih. Dalam mekanisme pemilu yang menggunakan prinsip “jurdil” dan “luber”, persaingan antar calon akan semakin bertambah keras.

Ditambah lagi dengan sistem kepartaian yang sangat majemuk, makin sulit bagi siapa pun untuk secara independen memperjuangkan nasibnya. Kesemuanya dilengkapi dengan adanya keharusan dukungan suara partai yang tidak kecil di DPR (20%) atau perolehan suara secara nasional (25%).

Maka setiap calon presiden mesti mencari kawan seiring untuk memenuhi ketentuan administratif tersebut. Dengan kata lain, betapa pun populernya seorang tokoh, menjadi kecil artinya dan mustahil dapat dicalonkan untuk menjadi presiden bila tidak mendapat dukungan minimal partai atau gabungan partai yang memperoleh suara sebanyak di atas.

Untuk itulah barangkali relevansi dari silaturahmi politik yang akhir-akhir ini banyak dilakukan pimpinan partai politik. Dimulai dengan kunjungan Ketua Umum Partai Golkar JK ke Mampang Prapatan, tempat DPP PKS berkantor. Pada beberapa hari kemudian, JK menerima kedatangan Ketua Umum DPP PPP Suryadharma Ali di markas Partai Golkar di Slipi.

Kemudian, DPP Partai Demokrat, dipimpin ketua umumnya, Hadi Utomo, juga menyambangi Presiden PKS Tifatul Sembiring, juga di markas PKS. Terakhir, seperti dikatakan terdahulu, Ketua Umum PDIP bertemu dengan ketua umum partai beringin di sebuah tempat yang “netral”, di Jalan Imam Bonjol.

Boleh jadi, itu bukan akhir dari serentetan silaturahmi politik. Makin dekat ke pemilu legislatif akan makin banyak terjadi pertemuan antarpimpinan partai politik. *** Dengan melihat kecenderungan di atas, pertanyaan lanjutan yang dapat dikemukakan adalah, pertama, bagaimana nasib Duet SBY-JK selanjutnya?

Masihkah kebersamaan mereka dapat dipertahankan? Kedua, kalau tidak, bagaimana karier politik JK pasca-2009? Apakah akan berusaha terus untuk goes for president? Ketiga, ketika the incumbent masih diunggulkan, adakah calon alternatif yang dapat menyainginya? Dari unsur partai atau tokoh non partaikah yang kemungkinan bakal menjadi kuda hitamnya?

Mengenai prospek duet SBY-JK memang masih menjadi teka-teki politik yang menarik. Ada pandangan yang menganggap bahwa kebersamaan itu mesti dipertahankan sampai 2014. Demi kepentingan negara dan bangsa, kesinambungan kepemimpinan sekarang diperlukan untuk meningkatkan kinerja yang telah mereka capai pada periode pertama kepemimpinan SBY-JK, 2004–2009.

Untuk itu, egoisme pribadi dan kelompok, menurut kalangan pendukung kemapanan ini, mesti disingkirkan demi kepentingan yang lebih besar, yakni bangsa dan negara. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa JK pada akhirnya akan tetap menjadi wakil presiden bersama SBY. Kalaupun ada manuver yang mengarah pada perceraian itu, demi kepentingan semua pihak, kebersamaan itu akan tetap menjadi prioritas utama JK.

Namun, pikiran lain mengatakan bahwa kebersamaan itu memang mesti diakhiri. Selain karena demi menjaga wibawa partai Golkar, JK pun memiliki modal yang tidak kecil untuk “naik pangkat”. Selain memiliki pengalaman yang cukup dalam pemerintahan dan terakhir menjabat sebagai wakil presiden, JK pun mempunyai andil eksklusif dan signifikan dalam menyelesaikan konflik di Poso serta Aceh.

Hal yang tidak mungkin dipandang remeh adalah kemampuan ekonomi JK dan keluarganya yang memang sangat diperlukan untuk memuluskan jalannya kampanye. Semua orang tahu mengenai hal ini. Lantaran begitu besarnya biaya politik yang diperlukan bagi seorang calon presiden, pemilikan atas sumber daya ekonomi pun menjadi makin penting artinya.

Dengan demikian, untuk apa lagi mempertahankan posisi sebagai orang nomor dua di negeri ini? Bukankah pemimpin senior Singapura Lee Kuan Yew pernah mengatakan bahwa JK itu hebat, tapi sayang dia hanya wakil presiden. Belakangan pun banyak yang mendorongnya agar segera bergerak untuk dapat “naik kelas”.

Tampaknya gayung pun bersambut. Dalam beberapa kali pernyataannya, JK kelihatannya secara terbuka menerima dukungan tersebut. Terakhir, muncul pernyataan yang cukup menyengat ketika dia mengatakan bahwa pemerintahan sekarang memang baik, tapi kalau dia memerintah niscaya akan lebih baik dan lebih cepat.

Karena pernyataan terakhir itulah, dugaan bahwa kebersamaan SBYJK akan segera berakhir semakin kuat. Apalagi sudah ada 28 DPD Partai Golkar yang mengatakan bahwa mereka siap mendukung JK untuk capres, bukan cawapres. Lengkap sudah argumen soal perpisahan SBY-JK tersebut.

Namun, bagaimana pasar politik bereaksi terhadap manuver JK akhir-akhir ini? Tampaknya, dari sisi elektabilitas, tak ada masalah dengan keinginan JK untuk “naik kelas”. Sejumlah sumber daya politik dan finansial yang telah disebutkan terdahulu sangat menggaris bawahinya.

Namun,dari sisi popularitas masih ada masalah. Berbagai survei politik yang dilakukan belakangan tetap mengunggulkan the incumbent Presiden SBY sebagai capres yang paling populer. Berarti, jika JK tetap ngotot untuk maju bersaing dalam bursa calon presiden Juli mendatang, dia harus berusaha keras melewati popularitas mantan Presiden Megawati Sukarnoputeri. Selain itu, JK harus dapat menemukan cawapres yang diperkirakan mampu mendongkrak popularitas dirinya selanjutnya.(*)

Seputar Indonesia : Tuesday, 17 March 2009

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/221620/

0 Responses to “SBY-JK: Bisakah Bersama Terus?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

%d bloggers like this: