Berpacu Membangun Koalisi

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

PEMILIHAN umum (pemilu) legislatif semakin dekat. Partai-partai politik pun seakan berpacu dengan waktu untuk membangun koalisi pemerintahan.

Pasalnya, hanya sebulan setelah pengumuman hasil pemilu legislatif oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), partai politik atau gabungan partai politik harus sudah mengajukan pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang mereka usung.

Sudah dapat dipastikan, tidak akan ada partai politik yang berani maju sendirian dalam pemilihan presiden dan wakil presiden langsung yang akan digelar 8 Juli 2009. Adanya aturan bahwa hanya partai politik atau gabungan partai politik yang memperoleh 20% kursi di parlemen atau 25% suara hasil pemilu legislatif 9 April 2009 yang berhak mengajukan pasangan capres dan cawapres menyebabkan pendekatan-pendekatan politik serta politik dagang sapi kini semakin intensif dilakukan.

Bursa capres dan cawapres pun semakin ramai dipergunjingkan orang. Sudah dapat dipastikan pula, partai-partai politik yang akan berkoalisi tidak akan memperhatikan latar belakang ideologi pasangan-pasangan koalisinya. Kabinet yang akan dibentuk lagi-lagi adalah kabinet pelangi.

Lalu apa yang akan menentukan pembentukan koalisi? Pertama dan terutama, kedekatan kimiawi antara capres dan cawapres. Kedua, partai-partai mana saja yang akan mendukung nya demi mendapatkan dukungan suara dari simpatisan partai-partai tersebut. Ketiga, partai-partai pelengkap penyerta akan dapat kursi apa di kabinet.

Keempat, apakah capres/cawapres memiliki dukungan finansial memadai untuk menggerakkan mesin kampanye partai dan dari mana saja pundi-pundi kampanye itu akan didapat. Kelima dan terakhir, perhitungan mengenai hasil survei yang benar atas popularitas dan/atau elektabilitas capres dan cawapres, baik berpasangan maupun sendiri-sendiri, tentunya juga menjadi perhitungan yang menentukan.

Kejutan
Meski berbagai pendekatan sudah berlangsung, bukan mustahil akan terjadi kejutan-kejutan pasangan capres dan cawapres. Selama ini yang muncul ke permukaan adalah tokoh-tokoh mana saja yang akan maju menjadi presiden. Gaya kampanye mereka pun macam-macam.

Ada yang menepuk dada atas keberhasilan dirinya memimpin negeri walau kenyataannya negeri ini masih menjadi negeri acakadut. Ada yang makan nasi aking sembari mewakafkan dirinya demi menyelamatkan bangsa dan negara. Ada yang mengkritik pemerintah yang sukanya hanya “menari poco-poco dan bermain yoyo” sembari menjanjikan sembako murah jika ia terpilih.

”Ada yang ingin memperbaiki nasib petani, nelayan, dan pedagang kecil. Ada pula yang bak bermain teater, tapi agak kaku dengan slogan ingin jadi pemimpin bangsa karena panggilan tugas. Namun, siapa yang sudah berkampanye untuk menjadi cawapres sepertinya belum ada. Inilah negeri yang semua tokoh politiknya mau menjadi presiden tanpa berkaca apakah ia mampu atau tidak.

Pecah kongsi pasangan SBY-Kalla memang menjadikan bursa pasangan capres dan cawapres semakin menarik untuk diamati. Pasangan ini memang semakin sulit untuk diselamatkan atau digabungkan kembali. Kedua tokoh bangsa itu, maaf, sudah seperti film kartun Tom and Jerry.

SBY belakangan ini lagi-lagi––maaf kalau saya harus berterus terang––juga semakin menerapkan gaya MBA dalam mengelola negeri alias management by anger! Beliau juga semakin susah untuk menerima kenyataan kalau wakilnya lebih “beken” di luar negeri karena itu layak mendapatkan doctor honoris causa dari Universitas Soka di Tokyo, Jepang, bulan lalu.

Atas perannya mempererat hubungan ekonomi Indonesia- Belgia,Kalla juga mendapatkan bintang jasa dari Pemerintah Belgia. Tak cuma itu, Kalla adalah wakil presiden pertama di dunia yang diterima Wapres Amerika Serikat (AS) Joe Biden di Gedung Putih! Ketika Kalla menghadiri santap pagi dengan para anggota Kongres AS, Presiden AS Barack Obama juga hadir di acara tersebut.

Hanya saja, karena alasan protokoler, Wapres Jusuf Kalla tak dapat bertemu langsung dengan Obama. Memang aneh kalau RI I selalu mengikuti gerak-gerik RI II. Tahun lalu saja, kalau Kalla ke pesantren NU, SBY melakukan hal yang sama ke Muhammadiyah. Kalau Kalla panen raya padi di suatu tempat di tanah Jawa, SBY pun melakukan hal yang sama di tempat lain.

Tak heran jika orang menduga, persaingan terbuka semakin nyata antara RI I dan RI II,yang seharusnya merupakan “Dwi-Tunggal” pemimpin bangsa. Begitu Partai Golkar dilecehkan dan tak ada tandatanda akan adanya “lamaran” untuk mempertahankan pasangan ini, Kalla pun langsung menggebrak dengan menerima undangan silaturahim dengan pimpinan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Bahkan Kalla sempat berbalas pantun dengan Presiden PKS,Tifatul Sembiring. Apakah ini pertanda akan terbentuknya koalisi antara Partai Golkar dan PKS yang memasangkan Kalla dengan Ketua MPR Hidayat Nurwahid? Belum tentu. Koalisi masih amat cair. PKS juga masih bermain ke Partai Demokrat dan PDI-Perjuangan untuk mencari kemungkinan yang paling menguntungkannya.

Partai-partai politik ibarat masih bermain “bridge” dengan “call” yang amat tinggi atau bahkan kartu ceki untuk mencari keberuntungan. PDIP juga masih mencaricari pasangan yang paling pas buat ketua umumnya, Megawati Soekarnoputri, yang sudah dinobatkan menjadi capres partai banteng dengan moncong putih ini.

Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP Taufik Kiemas ingin agar Mega berpasangan dengan Sultan Hamengku Buwono X dengan slogan “Mega- Buwono”. Namun, Megawati tampaknya kurang sreg dengan Sultan. Entah karena Sultan adalah Raja Yogya atau karena faktor lain.

Seorang raja biasanya amat sulit mengambil keputusan secara cepat, bukan karena peragu, melainkan karena harus mendengar masukan dari berbagai pihak dan mempertimbangkannya secara matang. Mega juga masih membuka kesempatan bagi para mantan jenderal, Wiranto atau Prabowo, untuk mendampinginya.

Namun, calon wapres lain seperti Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin, Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad atau bahkan Hidayat Nur Wahid masih mungkin menjadi pasangan Megawati. Surya Paloh,Ketua Dewan Penasihat DPP Partai Golkar, juga masih menggebu-gebu mengampanyekan koalisi Golkar- PDIP.

Mungkin karena dia juga ingin jadi cawapres mendampingi Megawati. Seperti telah saya ulas di artikel di SINDO, pekan lalu, sulit bagi SBY untuk menggantikan pasangan sekaliber Jusuf Kalla. Semua pasangan, apakah Sri Mulyani Indrawati, Hidayat Nur Wahid atau siapa pun memiliki plus minus politik.

Kita tunggu saja langkah “fans club SBY” melakukan manuver politik mencari pasangan untuk SBY. Belakangan ini mantan Panglima ABRI Jenderal (Purn) Wiranto juga mulai mendatangi kantor-kantor partai. Selasa sore ini, 3 Maret 2009, akan digelar seminar kecil di Kantor DPP PPP jalan Diponegoro, Jakarta, mengenai visi dan misi capres Wiranto.

Apa ini pertanda akan adanya koalisi antara Partai Hanura dan PPP? Belum pasti. Namun yang pasti adalah Wiranto akan maju menjadi capres jika Partai Hanura memperoleh 10% suara pada Pemilu Legislatif 2009. Meski partai-partai politik berpacu dengan waktu, koalisi pastinya belum akan terbentuk sebelum hasil pemilu legislatif dikeluarkan KPU.

Koalisi ini akan alot jika ternyata tidak ada satu partai politik pun yang memperoleh suara signifikan di atas 20%. Jika demikian, politik dagang sapi pun merupakan keniscayaan. Akibat sampingannya, Indonesia tidak akan memiliki pemerintahan yang kuat, stabil, dan memiliki fokus kebijakan pembangunan yang jelas dalam kurun waktu 2009-2014. *)

Seputar Indonesia, Selasa 03 Maret 2009

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/217976/1/

0 Responses to “Berpacu Membangun Koalisi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

%d bloggers like this: