Masih soal Capres Partai Golkar

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

POLITIK memang seni berbagai kemungkinan. Meski Ketua Umum DPP Partai Golkar Muhammad Jusuf Kalla sudah menyatakan siap menjadi calon presiden (capres) dari partai berlambang beringin ini, berbagai kemungkinan masih bisa terjadi.

Pernyataan Kalla yang dilontarkan setelah salat Jumat di masjid kompleks Istana Wakil Presiden pekan lalu belum meyakinkan karena diucapkan sebagai reaksi atas pertanyaan para wartawan dan bukan setelah rapat resmi pimpinan Partai Golkar. Tidaklah mengherankan jika pengamat senior CSIS Dr. J Kristiadi menilai apa yang diucapkan Kallahanyalah buying time di tengah desakan DPP dan DPD Partai Golkar.

Bukan mustahil Kalla masih punya agenda lain,misalnya menanti lamaran Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk melanjutkan duet SBY- Kalla pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2009. Pernyataan aklamasi 33 pengurus DPD I Partai Golkar yang mendukung Kalla menjadi capres bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Ini dapat dinilai sebagai ungkapan loyalitas kepada ketua umum partai dan untuk menunjukkan bahwa Partai Golkar masih solid serta punya harga diri. Namun, seperti diamanatkan rapat konsultasi pimpinan Partai Golkar pekan lalu, masih ada beberapa langkah-langkah politik yang harus dilakukan Golkar.

Pertama, penjaringan nama-nama capres dan cawapres dari Partai Golkar. Kedua, survei kepada masyarakat mengenai popularitas dan elektabilitas dari para capres dan cawapres dari Partai Golkar. Ketiga, sosialisasi para capres dan cawapres itu kepada masyarakat, yang bukan hanya konstituen Golkar. Sampai saat ini belum dilakukan survei independen atas permintaan Partai Golkar mengenai para capres dan cawapres dari partai ini.

Hasil survey dapat saja berbeda dengan hasil penjaringan oleh DPD I dan DPD II Partai Golkar. Sebagai contoh, Kalla bukan mustahil menjadi orang nomor satu capres pilihan DPD I dan DPD II Golkar tersebut, tapi hasil survei ternyata menempatkan Sultan Hamengku Buwono X sebagai capres dengan elektabilitas tertinggi. Jika ini terjadi, masih ada dua kemungkinan. Pertama, Kalla merelakan posisi capres di tangan Sultan, sedangkan Kalla hanya sebagai cawapres yang disandingkan dengan Sultan.

Kemungkinan keduadan ini amat problematis, Sultan tetap menjadi capres Partai Golkar, sedangkan Kalla hanya menanti lamaran SBY. Dengan demikian, Kalla maju menjadi cawapres mendampingi SBY tanpa dukungan Partai Golkar seperti terjadi pada Pilpres 2004 lalu. Namun, berbeda dengan kasus Pilpres 2004 di mana Kalla saat itu bukan orang nomor satu di Partai Golkar, jika yang kedua menjadi pilihan Kalla, ini tentu amat merendahkan derajat kenegarawanan Kalla karena ia lebih mendahulukan kepentingan individu ketimbang partai.

Dari sisi budaya politik, sebagai orang Bugis yang mengenal adat siri, sulit bagi Kalla untuk merendahkan derajatnya sebagai laki-laki dan ”manusia politik”. Pasangan Sultan dan Kalla, dalam posisi apa pun, merupakan pilihan terbaik dari sisi soliditas Partai Golkar walau kemungkinan untuk memenangi Pilpres 2009 masih 50:50. Kalau ini ditetapkan, paling tidak akan mengurangi konflik internal di Partai Golkar yang sebagian tokohnya, khususnya dari SOKSI (Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia), sejak lama sudah menyatakan dukungan kuat buat Sultan sebagai capres.

Sejak lama pula kelompok ini menyatakan, kalaupun Kalla dimajukan sebagai capres dari Partai Golkar, mereka tetap akan mendukung Sultan sebagai capres. Pandangan ini sebenarnya mengerdilkan kelompok ini karena bila mereka benarbenar kader partai yang baik, apa pun keputusan partai, jika keputusan itu dibuat secara demokratis, mereka harus mendukungnya. Jika tidak, mereka bukan saja menentang keputusan partai, melainkan juga lebih mendahulukan kepentingan politik kelompok sendiri.

Kalau semua jajaran dalam partai sudah sepakat Kalla sebagai capres, Sultan Hamengku Buwono X sepatutnya juga menerima keputusan itu dengan lapang dada dan bersedia menjadi cawapres mendampingi Kalla. Kini tergantung pada ego kedua tokoh Golkar ini, apakah pasangan keduanya dalam posisi Sultan- Kalla atau Kalla-Sultan. Namun akan sangat disayangkan jika kedua tokoh Golkar ini justru memilih, misalnya, Sultan sebagai capres Golkar dan cawapresnya dari partai lain atau Kalla hanya bersedia menjadi cawapres SBY (yang belum tentu melamarnya).

Seperti diutarakan oleh sebagian pengamat politik, khususnya Arbi Sanit, jika Kalla benar-benar diusung sebagai capres berpasangan dengan Sultan Hamengku Buwono X, pertarungan pada Pilpres 2009 akan makin seru karena ada alternatif capres di luar SBY dan Megawati Soekarnoputri.

Gairah berpolitik di Partai Golkar juga akan meningkat kembali sejalan dengan kembalinya kepercayaan pimpinan partai untuk mendahulukan penegakan harga diri partai yang sudah amat dihina oleh kawan sekoalisi. Mesin-mesin partai, mengutip anggota DPR dari Partai Golkar Yuddy Chrisnandi yang katanya ada di lebih 70.000 desa, dapat semakin digerakkan paling tidak untuk menunjukkan bahwa Golkar tetap menjadi partai yang perlu diperhitungkan pada Pemilu Legislatif 9 April 2009.

Kinerja mesin partai pada Pemilu Legislatif 2009 ini tentu dapat semakin digiatkan saat Pilpres 2009. Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009 memang menjadi taruhan politik bagi Partai Golkar bahwa mereka ”bukan kapal tua yang berlayar tanpa arah dan tanpa nakhoda yang andal”, melainkan ”kapal tua dengan mesin politik yang masih dapat diandalkan, dipimpin nakhoda yang andal dan penuh percaya diri serta didukung oleh anak buah kapal yang siap mengarungi samudera luas menghadapi penghalang ombak setinggi apa pun”.

Kita lihat saja apa langkah politik Partai Golkar selanjutnya, apakah para anggotanya tetap bersatu padu di bawah naungan beringin untuk mendukung sang ketua umumnya sebagai capres atau mereka tetap berkonflik memperjuangkan kepentingan kelompok masing-masing? Persoalan tarik ulur politik masalah capres ini juga akan menunjukkan kepada kita, siapa ”loyang” dan siapa ”emas” di Partai Golkar.(*)

Sumber: Seputar Indonesia, Selasa, 24 Februari 2009

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/216060/38/

0 Responses to “Masih soal Capres Partai Golkar”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

February 2009
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

%d bloggers like this: