Babak Akhir Yudhoyono-Kalla?

Prof. Dr. Syamsuddin Haris
Profesor Riset Ilmu Politik LIPI dan Sekjen PP AIPI

Mungkin karena lelah menunggu pinangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang tak kunjung datang, para Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar se Indonesia mendesak Jusuf Kalla maju sebagai calon presiden (capres) pemilu mendatang. Gayung bersambut, Kalla menyatakan kesiapannya menjadi capres Golkar. Apa dampak politiknya?

Seandainya Wakil Ketua Umum Partai Demokrat (PD) tidak mengeluarkan pernyataan nyeleneh yang menyakitkan kalangan Golkar, dan Ketua Dewan Pembina PD Yudhoyono tidak menggelar jumpa pers khusus untuk meluruskan kekeliruan Ahmad Mubarok tanpa memberi “sinyal” bagi Kalla, mungkin jajaran partai beringin masih tertidur secara politik. Betapa tidak, di tengah gegap-gempita PDI Perjuangan menjual “sembako murah” Megawati, dan klaim gencar PD atas “sukses besar” Presiden Yudhoyono, Golkar malah termenung sendirian di ujung lorong menuju Pemilu 2009.

Kini pernyataan nyeleneh Mubarok justru menjadi “berkah” bagi Golkar. Dinamika internal partai warisan Soeharto ini begitu cepat berubah. Aspirasi arus bawah yang disuarakan DPD-DPD direspons Kalla secara mengejutkan: ia menyatakan siap menjadi capres Partai Golkar untuk pemilu mendatang. Sejumlah kader Golkar bahkan segera akan meluncurkan forum JK for President.

Dilema Kalla
Pernyataan kesiapan Kalla mengejutkan karena sejak awal saudagar asal Bugis ini terlanjur memiliki sikap politik sendiri terhadap Golkar dan Presiden Yudhoyono. Bagi Kalla, pilihan terbaik bagi Golkar adalah membiarkan dirinya tetap mendampingi Yudhoyono untuk periode 2009-2014 dengan keyakinan bahwa Ketua Dewan Pembina PD ini masih akan meminangnya untuk Pilpres 2009.

Namun bagi sebagian elite Golkar, sikap politik Kalla tak hanya cenderung membiarkan partai “terpenjara”, melainkan juga menjadikan partai terbesar Pemilu 2004 ini sekadar sebagai perisai politik oleh Yudhoyono. Apalagi pinangan yang ditunggu Golkar dan Kalla tak kunjung datang. Realitas inilah yang mempercepat dinamika internal Golkar dan mendorong DPD-DPD mendesak Kalla.

Pertanyaannya, apakah pernyataan kesiapan Kalla lebih merupakan strategi politik menghadapi Yudhoyono yang tak kunjung melamarnya, atau justru pertanda bahwa Kalla benar-benar hendak berpisah dari Yudhoyono. Saya berpendapat bahwa pernyataan kesiapan Kalla lebih merupakan ungkapan kekecewaan sekaligus strategi ketimbang sebagai skenario talak dengan Presiden Yudhoyono.

Paling kurang ada tiga argumen untuk ini. Pertama, sebagai ketua umum partai, Kalla harus tunduk pada hasil Rapimnas Gollkar 2008 yang memutuskan penetapan capres melalui mekanisme survei yang didahului penjaringan oleh DPD-DPD secara berjenjang. Jika survei dilakukan secara benar, Sultan Hamengku Buwono X mungkin lebih populer, sehingga peluang Kalla sebagai capres menjadi tertutup. Kedua, meskipun ada riak-riak konflik dalam relasinya dengan Yudhoyono, Kalla sebenarnya masih ingin mempertahankan duet mereka untuk periode berikutnya. Ketiga, Kalla percaya bahwa Yudhoyono masih membutuhkan dukungan politik partai Golkar di DPR, sehingga pinangan terhadap dirinya hanya soal waktu.

Keuntungan dan Kerugian
Paling kurang ada beberapa keuntungan yang diraih Golkar apabila memajukan capres sendiri. Pertama, deklarasi capres bisa menjadi momentum bagi para kader, aktivis dan caleg Golkar untuk berdiri lebih tegak menghadapi pemilu legislatif mendatang. Kedua, Golkar jelas lebih memiliki bargaining position dengan partai lain jika dibandingkan hanya menjadi perisai politik PD dan Yudhoyono. Ketiga, elite Golkar dianggap lebih luwes dan moderat dalam berpolitik ketimbang kubu Yudhoyono dan Megawati, sehingga partai beringin bisa menggalang koalisi politik yang lebih besar jika benar-benar mengajukan capres sendiri.

Harus diakui pula bahwa tingkat elektabilitas tokoh-tokoh Golkar relatif lebih rendah dibandingkan Yudhoyono. Seperti diindikasikan banyak hasil survei, peluang Kalla ataupun Sultan HB X relatif kecil dibandingkan dua orang tokoh yang belum saling bertegur-sapa, Yudhoyono dan Megawati.

Namun demikian, apabila perolehan suara PDI Perjuangan dalam pemilu legislatif tidak signifikan dan Megawati mundur sebagai capres, tentu terbuka peluang bagi Golkar untuk menggalang koalisi yang lebih besar lagi, semacam “Koalisi Kebangsaan Jilid II”. Luka politik Megawati terhadap Yudhoyono yang tak kunjung sembuh, jelas menjadi peluang bagi Golkar untuk memperoleh dukungan politik PDI Perjuangan.

Yudhoyono Tanpa Golkar?
Akan tetapi, apakah Presiden Yudhoyono benar-benar hendak meninggalkan Golkar, Kalla, atau dua-duanya? Bahwa Yudhoyono agak ragu-ragu meminang kembali Kalla, barangkali ada benarnya. Ketidaknyamanan Yudhoyono atas pernyataan dan langkah politik Kalla yang acapkali melampaui otoritasnya, bisa menjadi faktor penting yang melatari apabila akhirnya Yudhoyono menceraikan saudagar asal Bugis ini.

Namun mungkin terlalu dini untuk mengatakan bahwa Yudhoyono benar-benar hendak meninggalkan Golkar yang disebutnya sebagai partner dan “sahabat” yang baik. Sosok kepemimpinan Yudhoyono selama empat tahun terakhir memperlihatkan bahwa sebagai Presiden dengan basis politik minoritas, jenderal asal Pacitan ini sebenarnya membutuhkan dukungan politik Golkar. Selain itu, Yudhoyono seringkali “takut” menghadapi tekanan politik partai-partai di DPR. Seperti tampak dalam respons atas hak interpelasi DPR, Presiden Yudhoyono lebih suka melakukan “rapat konsultasi” secara tertutup dengan Pimpinan Dewan ketimbang menghadiri forum terbuka Rapat Paripurna DPR.

Karena itu saya tidak begitu yakin bahwa Yudhoyono benar-benar hendak meninggalkan Partai Golkar. Dalam hitungan politik Yudhoyono, Golkar tetap dibutuhkan bukan hanya untuk mengamankan kebijakan pemerintah di DPR, melainkan juga sebagai partner berpengalaman untuk menghadapi oposisi PDI Perjuangan. Selain itu, jika Yudhoyono menceraikan partai beringin, maka terbuka peluang terbentuknya koalisi Golkar-PDI Perjuangan yang akan mengancam kelangsungan pemerintahannya apabila mantan Menko Polkam ini terpilih kembali sebagai presiden.

Lebih Bergejolak
Kini persoalannya terpulang kepada Presiden Yudhoyono, apakah hanya menceraikan Kalla, atau juga Golkar. Jika kedua-duanya, dan Yudhoyono masih terpilih kembali, maka dinamika politik pemerintahan hasil Pemilu 2009 kemungkinan lebih bergejolak ketimbang era Yudhoyono-Kalla saat ini. Namun apabila Yudhoyono hanya ingin meninggalkan Kalla tetapi ingin mempertahankan koalisi dengan Golkar, maka lulusan AKABRI 1973 ini semestinya memberi sinyal politik yang jelas.

Hanya masalahnya, pertama, kalangan Golkar belum tentu mau menerima tawaran politik Yudhoyono karena itu berarti membiarkan Kalla “didzalimi” oleh Ketua Dewan Pembina PD ini. Kedua, apabila keputusan Rapimnas Golkar 2008 dilaksanakan secara jujur dan ternyata Sultan HB X terpilih oleh survei, maka tertutup peluang bagi Yudhoyono berkoalisi dengan Golkar karena Raja Yogyakarta ini menolak posisi sebagai cawapres. Ketiga, jika hasil survei Golkar mengunggulkan Kalla, apa boleh buat Yudhoyono harus berhadapan dengan mantan wapresnya ini pada Pilpres 2009 mendatang.

Pilihan politik apapun yang diambil Presiden Yudhoyono tentu sah-sah saja. Namun kita sebagai masyarakat hanya berharap agar pilihan-pilihan itu tidak mengorbankan kinerja pemerintahan hasil Pemilu 2004 yang masih berlangsung hingga akhir Oktober 2009. Itu artinya, kawin-cerai secara politik boleh-boleh saja asal kepentingan kolektif bangsa kita tetap menjadi prioritas.

Di muat di Media Indonesia, Senin 23 Februari 2009

1 Response to “Babak Akhir Yudhoyono-Kalla?”


  1. 1 Marlin April 30, 2009 at 5:39 am

    Analisa yang hebaaat….!!!
    Saya setuju


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

February 2009
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

%d bloggers like this: