Partai Golkar: Bangkit atau Hancur

Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

PERNYATAAN Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Ahmad Mubarok, bahwa Partai Golkar hanya akan mendapatkan 2,5% suara pada pemilu legislatif 9 April 2009, sungguh menyentuh kalbu para pengurus Partai Golkar.

Ucapan itu dianggap penghinaan bagi sebuah partai yang dalam konteks politik kekinian, bukan saja partai terbesar di Indonesia, melainkan juga partai tertua jika dilihat sejak kelahirannya pada awal era Orde Baru.

Alih-alih para pengurusnya melakukan konsolidasi kekuatan partai, isu yang berkembang di internal Partai Golkar justru masih soal usung-mengusung calon presiden dan/atau calon wakil presiden dari partai berlambang beringin ini.Konsolidasi politik di internal partai masih sekadar wacana,kalau tidak dapat dikatakan “angan-angan” belaka.

Partai Golkar, tampaknya, bak kapal tua yang terombang-ambing dalam riak gelombang laut yang tidak begitu membahayakan. Namun, jika nakhoda partai tak mampu mengarahkan kapal tua ini ke tujuan, bukan saja kapal ini akan karam, melainkan juga hancur berkepingkeping di tengah samudra luas praktik politik Indonesia yang belakangan ini amat liar.

Jika itu terjadi, amat sulit untuk membangun kembali Partai Golkar sebagai “Golkar Baru”, sebuah wahana politik bagi kaum teknokrat, aktivis pemuda dan usahawan nasionalis, seperti dicanangkan mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung saat badai politik menerjangnya di awal reformasi 1998.

Jika kapal tua ini karam atau hancur berkeping-keping pascapemilu legislatif 2009, bukan hanya para pengurus, anggota atau pendukungnya saja yang mengalami kerugian politik, melainkan juga bangsa dan negara Indonesia secara keseluruhan.

Terlepas dari citra buruk Golkar pada era Orde Baru, dalam konteks politik Indonesia modern pasca reformasi, Partai Golkar bersama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai dua partai nasionalis terbesar di Indonesia, dapat dikategorikan sebagai jangkar bagi ideologi Pancasila.

Partai-partai nasionalis lain, seperti Partai Hanura, PKPI,Partai Gerindra,Pakar Pangan, Partai Barnas, merupakan wujud “Golkar Masa Lalu” dan belum teruji sebagai partai yang dapat mengembangkan demokrasi Indonesia masa depan, tanpa bangunan sistem otoriterisme seperti era Orde Baru.

Partai Demokrat pun belum teruji sebagai sebuah partai politik yang “sesungguhnya” atau masih akan sekadar “fans club SBY”.Nasib Partai Demokrat masih belum pasti pascapemilu 2009, terlebih lagi pasca 2014, saat SBY bukan lagi tokoh yang dapat didudukkan sebagai presiden RI. Partai-partai pecahan PDIP juga belum teruji sebagai partai yang mampu bertahan pasca pemilu legislatif 2009.

Perubahan Internal Golkar
Sejak 2004 tampak adanya perubahan di internal Partai Golkar. Dari sisi kepengurusan partai, para ideologi partai atau mereka yang sejak masa Orde Baru membangun Partai Golkar, sedikit demi sedikit sudah digantikan oleh kaum entrepreneur.

Ini tentunya memengaruhi gaya kepengurusan di Partai Golkar, dari sesuatu yang ada nuansa ideologis, cita-cita dan gagasan untuk mencapai tujuan bersama, menjadi sesuatu yang lebih banyak didasari perhitungan untung-rugi politik dan ekonomi.

Cara-cara rapat di dalam partai tentunya juga berubah, dari yang biasanya diskusi panjang yang dapat memakan waktu 6–12 jam atau bahkan berhari-hari sebelum menjadi keputusan matang yang final, menjadi rapat yang amat singkat (demi efisiensi waktu) karena waktu adalah uang. Tidaklah mengherankan jika tidak sedikit keputusan yang menggantung dan tidak ada jalan keluarnya.

Dari sisi keanggotaan, mereka yang masuk menjadi anggota Partai Golkar juga dilatarbelakangi oleh berbagai kepentingan individu. Tidaklah mengherankan jika ada anggota atau bahkan pengurus Partai Golkar yang berpindah ke partai lain jika mereka menilai tak ada keuntungan pribadi yang mereka dapatkan jika tetap berada di dalam Partai Golkar.

Apa yang terjadi saat penyusunan daftar caleg 2009 adalah contoh yang amat konkret. Dari sisi hubungan Partai Golkar dengan birokrasi dan militer, era reformasi juga menyulitkan bagi partai ini untuk berkiprah secara leluasa.

Perubahan politik Indonesia pasca 1998 tampaknya kurang diikuti oleh gaya berpolitik partai yang sejak era Orde Baru amat lekat dan tergantung pada Birokrasi dan Militer. Ini pula yang menyebabkan budaya politik para pengurus Partai Golkar masih merupakan budaya penguasa dan belum merasuk ke budaya yang memungkinkan Partai Golkar menjadi kekuatan oposisi.

Tidaklah mengherankan jika di kala partai sedang terseok-seok menghadapi pemilu legislatif 2009, bukan konsolidasi partai yang mereka lakukan, melainkan justru ribut terus menerus mengenai penentuan capres dan/atau cawapres dari Partai Golkar, seolah-olah Golkar sudah pasti memperoleh suara signifikan pada pemilu legislatif 2009.

Lebih mengherankan lagi, apa yang diutarakan Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat bukan dilihat secara positif sebagai “peringatan dini” bagi Partai Golkar,melainkan justru dilihat sebagai pernyataan “tidak bersahabat” dari “kawan sekoalisi.” Padahal dalam politik tidak ada koalisi yang abadi.

Para pengurus, caleg dan anggota Partai Golkar sepatutnya menilai ucapan Ahmad Mubarok sebagai wake up call terhadap Partai Golkar. Konsolidasi partai harus cepat dilakukan sebelum “nasi menjadi bubur.” Kehancuran,ataupalingtidakkemerosotan Partai Golkar pada pemilu legislatif 2009 akan mempersulit Partai Golkar untuk bangkit kembali di tengah budaya politik sebagian politisinya yang kurang bermoral, tak peduli pada ideologi dan sulit dikendalikan.

Konsolidasi dan langkah-langkah partai yang terukur pada sisa waktu menjelang pemilu legislatif 2009, merupakan suatu keniscayaan. Para pengurus di berbagai tingkatan, para caleg dan pegiat partai,perlu mencamkan kembali Mars Golkar yang antara lain berbunyi, “rapatkan barisan, siagakan dirimu, kibarkan panji-panji golongan karya.” Tanpa itu, bukan mustahil apa yang dikatakan Mubarok akan menjadi kenyataan.(*)

Dimuat di Seputar Indonesia, Selasa 17 Februari 2009

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/214241/38/

0 Responses to “Partai Golkar: Bangkit atau Hancur”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

February 2009
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

%d bloggers like this: