Bila Yudhoyono ke Lain Hati

Oleh: Prof. Dr. Syamsuddin Haris
Profesor Riset Ilmu Politik LIPI dan Sekjen PP AIPI

Iklan kampanye Partai Demokrat begitu gencar mempromosikan ”keberhasilan” Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tetapi tak kunjung memberi ”sinyal” soal calon wakil presiden. Padahal, keberhasilan Presiden Yudhoyono adalah juga sukses Wakil Presiden Jusuf Kalla. Apakah Yudhoyono ke lain hati?

Tanda-tanda bahwa Yudhoyono belum tentu berduet kembali dengan Kalla muncul di arena Rapat Pimpinan Nasional Partai Demokrat (PD) akhir dua pekan lalu. Begitu pula pada jumpa pers mendadak di Puri Cikeas, Bogor, Selasa (10/2) malam lalu, Yudhoyono sama sekali tidak menyinggung kelangsungan duetnya dengan Kalla pada pemilu mendatang. Di tengah penantian Partai Golkar dan Kalla itu, dalam arena Rapimnas PD malah muncul nama Ketua MPR Hidayat Nur Wahid dan Pelaksana Jabatan Menteri Koordinator Perekonomian Sri Mulyani Indrawati sebagai kandidat lain yang potensial mendampingi Yudhoyono.

Saling mengisi
Meski sempat terjadi riak-riak konflik dan ketegangan dalam relasi Yudhoyono-Kalla, sulit dimungkiri bahwa kedua mantan menteri koordinator pada era Megawati ini sebenarnya saling mengisi satu sama lain. Jika Yudhoyono merupakan sosok yang tertata dalam ucapan, perilaku, bahkan busana, Kalla adalah politisi saudagar dalam arti seutuhnya: lugas, ringkas, tangkas, dan ceplas-ceplos apa adanya. Begitu lugasnya Kalla sehingga acap kali respons publiknya atas berbagai isu politik melampaui posisi konstitusionalnya sebagai ”ban serep” Presiden Yudhoyono.

Karena itu, spekulasi ”perceraian politik” Yudhoyono-Kalla mungkin lebih merupakan strategi ketimbang suatu pilihan final PD dan Yudhoyono. Persoalannya, baik PD maupun Yudhoyono membutuhkan dukungan politik Golkar di DPR. Pengalaman selama hampir lima tahun terakhir memperlihatkan, tanpa dukungan politik Golkar di DPR, kebuntuan politik bisa terjadi dalam relasi eksekutif-legislatif. Munculnya sekitar 14 usulan hak interpelasi dan 8 usulan hak angket selama pemerintahan Yudhoyono-Kalla mengindikasikan potensi kebuntuan tersebut.

Selain itu, sebagai partai yang relatif baru, PD masih perlu ”belajar” dari Golkar dalam manajemen isu, kemahiran melakukan lobi, dan strategi penguasaan forum rapat-rapat DPR. Diakui atau tidak, Fraksi PD di DPR kini lebih sebagai ”humas” bagi berbagai kebijakan pemerintah ketimbang pembela kepentingan rakyat.

Namun, jika benar Presiden Yudhoyono hendak meninggalkan Golkar dan Kalla, beberapa implikasi berikut bakal muncul. Pertama, Golkar memajukan calon presiden sendiri atas dasar survei popularitas yang dilakukan. Jusuf Kalla, Sultan HB X, Akbar Tandjung, atau tokoh Golkar lain akan bersaing merebut tiket sebagai calon presiden resmi Golkar. Seperti dikemukakan Ketua Fraksi Golkar DPR Priyo Budi Santoso, koalisi alternatif di luar kubu Yudhoyono dan kubu Megawati bisa menjadi pilihan Golkar. Dalam kaitan ini, poros alternatif atau Poros Tengah jilid II yang digagas kembali oleh Amien Rais dapat menjadi pilihan yang realistis.

Kedua, Golkar merintis kembali Koalisi Kebangsaan bersama PDI-P seperti diinginkan Ketua Dewan Penasihat Golkar Surya Paloh dan Ketua Dewan Pertimbangan PDI-P Taufik Kiemas melalui silaturahmi nasional di Medan dan Palembang beberapa waktu lalu. Golkar dan PDI-P bisa bertukar tempat, apakah sebagai calon presiden atau calon wapres, tergantung dari hasil pemilu legislatif 9 April 2009.

Ketiga, Golkar melepas kesempatan menjadi calon presiden atau calon wapres dan mempersiapkan diri menjadi kekuatan oposisi yang signifikan di DPR.

Gangguan DPR
Pilihan politik apa pun yang diambil Golkar tampaknya amat berisiko bagi Presiden Yudhoyono. Jika terpilih kembali dengan dukungan partai-partai kecil, Ketua Dewan Pembina PD ini akan menghadapi oposisi yang benar-benar signifikan di DPR. Di sisi lain, Fraksi PD di Dewan relatif belum menjanjikan performance yang meyakinkan Yudhoyono bahwa pemerintahannya kelak aman dari ”gangguan” DPR.

Karena itu, saya tidak begitu yakin Presiden Yudhoyono benar-benar hendak meninggalkan Golkar dan Kalla. Kalaupun Yudhoyono berani pindah ke lain hati, mungkin mantan Menko Polkam era Megawati ini hanya menceraikan Kalla, tetapi tetap berusaha membangun koalisi dengan Golkar.

Jumpa pers mendadak Yudhoyono di Cikeas pekan lalu mengindikasikan hal itu. Yudhoyono berulang-ulang menyatakan Golkar adalah ”sahabat” dan teman baik. Akan tetapi, pada saat yang sama, Yudhoyono tidak menyinggung masa depan kebersamaannya dengan Wapres Kalla.

Jika Yudhoyono mengambil pilihan terakhir, masalahnya terletak pada apakah tokoh Golkar yang dipinangnya didukung secara organisasi oleh partai beringin atau tidak. Jika tidak, fenomena pemilu presiden putaran kedua tahun 2004 bakal terulang. Golkar memajukan calon presiden sendiri (dengan koalisi partai di luar PD) dan akan bersaing dengan Yudhoyono yang berpasangan dengan tokoh Golkar.

Membenahi koalisi
Terlepas dari berbagai riak disharmoni yang muncul dalam relasi Yudhoyono-Kalla, sulit dimungkiri, pilihan terbaik bagi PD dan Golkar adalah melanjutkan koalisi di antara mereka. Tentu bukan model koalisi longgar dan semu seperti yang berlangsung selama ini, tetapi desain koalisi yang benar-benar didasari pada kesamaan platform, visi, dan program rekonstruksi menyeluruh atas kehidupan bangsa kita sehingga suatu Indonesia baru yang adil, demokratis, dan sejahtera bagi rakyatnya tidak sekadar janji-janji politik, melainkan terwujud dalam kenyataan.

Terlalu mahal harga yang harus dibayar bangsa ini jika Pemilu 2009 hanya sekadar momentum pertukaran kekuasaan di antara para elite politik kita.

Dimuat di Kompas, Selasa, 17 Februari 2009

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/17/00384265/bila.yudhoyono.ke.lain.hati

0 Responses to “Bila Yudhoyono ke Lain Hati”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

February 2009
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

%d bloggers like this: