Pilpres dan Kegamangan Golkar

Oleh: Prof. Dr. Syamsuddin Haris
Profesor Riset LIPI

Sebagai partai terbesar pada Pemilu 2004, hingga kini Partai Golkar tidak kunjung mendeklarasikan calon presiden. Ketika Partai Demokrat sibuk mempromosikan keberhasilan Presiden Yudhoyono dan PDI-P wira-wiri mencari calon wapres pendamping Megawati, Partai Golkar terkesan gamang, seolah menunggu ”godot” yang tak kunjung hadir. Ada apa?

Barangkali inilah buah dari keputusan Rapimnas Golkar 2007 dan 2008 yang menganulir tradisi konvensi yang digelar menjelang Pemilu 2004. Meski konvensi gagal mengantar capres Golkar ke Istana, tradisi konvensi berhasil melembagakan mekanisme kompetisi secara fair dan demokratis.

Konvensi juga memberi kesempatan bagi setiap kandidat untuk bersaing atas dasar kompetensi dan platform politiknya. Bandingkan jika Golkar menggunakan metode survei yang cenderung menghasilkan tokoh populer, tetapi belum tentu memiliki komitmen kekaryaan, jati diri partai berlambang beringin ini.

Tidak mengherankan jika elite Golkar yang kecewa, seperti Marwah Daud Ibrahim dan Yudhi Krisnandi, mengikuti konvensi capres yang diselenggarakan Dewan Integritas Bangsa, atau merespons tawaran Megawati yang sedang mencari calon wapres pendamping sebagaimana dilakukan Sultan HB X, Akbar Tandjung, dan Surya Paloh. Tentu tak ada yang salah dengan langkah para tokoh itu karena partai beringin yang gamang itu kini dianggap bukan lagi ”rumah politik” yang menjanjikan bagi mereka.

Iklan malu-malu
Cermin kegamangan Golkar juga tampak dalam iklan kampanye melalui media cetak dan elektronik. Berbeda dengan iklan kampanye Partai Demokrat yang berapi-api, menepuk dada atas keberhasilan Presiden Yudhoyono, atau iklan Partai Gerindra yang menggelorakan semangat perubahan, atau iklan PDI-P yang menantang pemerintah dengan program bahan pokok murah, iklan Partai Golkar terkesan malu-malu.

Dalam iklan di media elektronik, Golkar terlihat gamang memosisikan diri sebagai bagian pemerintahan Yudhoyono sehingga yang ditonjolkan pertama-tama ”prestasi” di DPR. Padahal, klaim atas ”prestasi” Golkar di DPR belum tentu produktif jika dihubungkan dengan citra publik Dewan yang merosot akhir-akhir ini.

Mengklaim ”prestasi pemerintah” sebagai keberhasilan Golkar juga bermasalah karena Golkar adalah ”penumpang terakhir” dalam kereta Kabinet Indonesia Bersatu. Itu pun setelah Presiden Yudhoyono membujuk Wapres Jusuf Kalla merebut jabatan Ketua Umum Partai Golkar sehingga Koalisi Kebangsaan yang digalang PDI-P dan Golkar di DPR membubarkan diri pada akhir 2004.

Di satu pihak, iklan kampanye malu- malu Golkar dapat dipahami sebagai produk dari posisi dilematis Wapres Kalla yang harus mempertahankan komitmen mendukung Yudhoyono sampai akhir masa jabatan. Di pihak lain, sikap malu-malu Golkar merupakan cermin kegagalan partai beringin mengelola potensi strategisnya secara tepat dan cerdas.

Kalah sebelum perang
Pilihan Golkar untuk menunda deklarasi pencalonan presiden hingga pemilu legislatif usai tentu mengurangi daya tawar partai ini dalam berhadapan dengan partai lain. Apalagi jika ternyata perolehan suara Golkar dalam pemilu legislatif tidak begitu signifikan, seperti diindikasikan beberapa hasil survei. Tak mengherankan jika kini Golkar lebih sebagai ”penonton” dari persaingan capres Yudhoyono dan Megawati.

Sebagai partai terbesar bertabur tokoh berpengalaman, amat riskan bagi Golkar terus menunda deklarasi capres. Apabila ternyata perolehan suara Golkar merosot dan Partai Demokrat memenangi pemilu legislatif, seperti diindikasikan hasil survei LSI Saiful Mujani, Wapres Kalla belum tentu ”dilirik” Yudhoyono. Kalaupun putra Pacitan ini mengajak Kalla sebagai pasangannya lagi, Golkar akan kehilangan daya tawar dalam menentukan kabinet dan arah pemerintahan.

Karena itu, strategi pemenangan pemilu semestinya dikelola dalam satu paket antara pemilu legislatif dan pemilu presiden. Pilihan untuk terus menunda deklarasi capres bukan hanya menjadikan Golkar ”kalah sebelum berperang”, tetapi juga membatasi peluang memobilisasi dukungan dalam pemilu legislatif. Benar preferensi pilihan rakyat dalam kedua pemilu cenderung berbeda. Namun, jangan-jangan hal itu hanya potret Pemilu 2004 yang belum tentu terjadi pada pemilu nanti.

Perlu skenario alternatif
Apabila Golkar masih ingin menjadi partai yang menentukan arah bangsa ini, tak ada argumen yang masuk akal untuk terus menunda deklarasi capres.

Tak ada salahnya Wapres Kalla secara personal tetap berkomitmen mendampingi Presiden Yudhoyono hingga akhir masa jabatan. Namun, di sisi lain, secara institusi, Golkar perlu mendeklarasikan Kalla atau capres siapa pun jika Presiden Yudhoyono tak kunjung memberi ”sinyal” menggembirakan bagi Golkar.

Skenario lain yang bisa dicoba Golkar adalah mendesain model koalisi yang benar-benar dibangun atas dasar program dan platform politik yang jelas, terarah, dan terukur. Ini penting tak hanya dalam rangka pendidikan politik dan pencerdasan bangsa, tetapi juga untuk menghindari koalisi atas dasar syahwat kekuasaan. Maka, sikap malu-malu dan gamang Golkar sebenarnya tak perlu terjadi seandainya elite partai ini lebih berani merancang skenario alternatif.

Rugi besar bagi Golkar jika hanya bersedia menjadi ”ban serep” bagi Partai Demokrat yang hanya bisa mengklaim keberhasilan pemerintah, tetapi relatif tak bersuara di DPR. Juga rugi besar bagi bangsa ini jika pertarungan politik Pemilu 2009 hanya terperangkap dalam metafora permainan ”yo-yo” dan ”gasing” yang tidak mencerdaskan.

Sumber: Kompas, 4 Februari 2009
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/04/00351066/pilpres.dan.kegamangan.golkar

0 Responses to “Pilpres dan Kegamangan Golkar”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

February 2009
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

%d bloggers like this: