Teka-teki Pendamping Mega?

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Intermestic Affairs LIPI

Teka-teki mengenai siapa yang akan mendampingi Megawati Soekarnoputri pada pemilu presiden langsung Juli mendatang belum terjawab. Pada Rakernas III PDIP di Makassar beberapa waktu lalu, masih ada sekitar 17 nama yang disebut-sebut sebagai pendamping Mega.

Pekan lalu, ketika beberapa tokoh politik diundang ke kediaman Megawati, masih muncul lima nama yang santer disebut sebagai cawapres yang akan mendampingi Mega. Mereka adalah Sultan Hamengku Buwono X, Prabowo Subianto, Akbar Tandjung, Sutiyoso dan Hidayat Nurwahid.

Senin siang, 26 Januari 2009, masih ada empat nama yang disebut, yaitu lima nama di atas dikurangi Akbar. Sore harinya tinggal tiga nama, dengan nama Hidayat yang menghilang. Malam harinya tinggal dua nama, yaitu Sultan HB X dan Prabowo.

Pertemuan empat mata antara Mega dan Sultan pada Senin malam, 26 Januari 2009 semakin memperuncing kemungkinan Mega-Buwono (pasangan capres Megawati dan cawapres Sultan) akan diusung PDI-P pada Pilpres 2009. Tapi semua itu masih dugaan belaka, walau para pendukung Sultan sudah meneriakkan yel-yel “Mega-Buwono.”

Mencari pendamping Mega memang bukan perkara mudah. Perhitungan mencakup soal dukungan akar rumput, kesesuaian visi dan misi politik, rekam jejak cawapres, komplikasi politik menjelang Pemilu legislatif, sampai ke soal dana kampanye.

Mega sendiri dalam berbagai kesempatan menyatakan lebih menghendaki persoalan cawapres yang akan mendampinginya sudah tuntas sebelum Pemilu legislatif. Alasannya, koalisi yang dibangun lebih murni dan bukan atas dasar kekuatan yang didasari kepentingan politik semata.

Nama Akbar tak muncul lagi mungkin karena jajak pendapat terhadapnya amat kecil, demikian juga nama Sutiyoso. Hidayat pernah santer disebut sebagai calon pendamping Mega, demi membangun kekuatan Nasionalis-Islam. Namun pembicaraan mengenai itu hanya terjadi antara Taufiq Kiemas dan Hidayat, Mega sendiri belum pernah bicara langsung dengan Hidayat.

Hidayat selalu mengatakan itu urusan partai, bukan urusan individu, karena itu koalisi itu harus didukung oleh PKS, dan itu baru dilakukan setelah hasil pemilu legislatif diketahui. Sementara, ada persoalan pelik antara Presiden PKS Tifatul Sembiring dan Megawati.

Antara kedua tokoh itu pernah ada silang pendapat. Tifatul menginginkan kelompok tua, termasuk Megawati, jangan lagi mencalonkan diri menjadi capres, biarkan anak-anak muda mengurus negeri ini. Sementara pandangan Mega, kalau anak muda mau maju, mengapa mesti menyuruh kelompok tua minggir? PKS, sebagai partai, juga tidak pernah secara tegas menyatakan setuju atau tidak pada capres perempuan. Jika ditanya, Tifatul selalu menjawab: “tergantung pilihan rakyat!”

Pekan lalu, pasangan Mega-Prabowo sangat santer disebut, karena Prabowo menerima undangan Mega untuk makan malam. Kedua tokoh itu melupakan persoalan masa lalu ayah mereka–Presiden Soekarno dan Begawan Ekonomi Soemitro Djojohadikusumo– yang berbeda aliran politiknya.

Menurut Mega, “Kami anak-anak Menteng itu memang unik, sudah terbiasa mengalami perbedaan ideologi politik, tapi hubungan kekeluargaan dan silaturahim tetap berjalan.” Suatu saat Mega pernah bercerita bagaimana ia masa kecilnya sudah makan asam garam politik. Misalnya saja, dulu ketika kecil ia sudah ikut diskusi-diskusi politik ayahnya, Bung Karno.

Persoalan Mega-Prabowo bukan soal politik atau citra politik Prabowo di masa lalu, karena itu hanya urusan elite politik dan bukan massa akar rumput. Prabowo tampaknya juga siap dengan pundi-pundi uangnya untuk mendukung kampanye Mega-Prabowo. Tapi mungkin ada pertimbangan lain yang belum pas.

Pasangan Mega-Buwono juga bukan tanpa tentangan. Tujuh pendekar budaya dan politik yang selama ini mendampingi Sultan tampaknya kurang sreg kalau Sultan cuma jadi orang kedua. Mereka maunya Sultan jadi Capres dan Mega jadi cawapres, suatu ‘call’ politik yang tentunya sulit diterima oleh kalangan PDI-P. PDI-P dan Megawati tentunya masih menimbang-nimbang siapa yang paling pas jadi pendamping Mega. Tapi sebenarnya itu bukan lagi urusan Rakernas IV PDI-P di Solo, melainkan sudah urusan pribadi Megawati.

Ketika Barack Obama menentukan Joe Biden sebagai capresnya, itu juga Obama sendiri yang menentukan, bukan Partai Demokrat AS. Persoalannya, apa implikasi politik yang muncul ke depan jika dari empat, tiga, dua dan kemudian hanya tinggal satu nama pasangan Mega. Apakah orang-orang yang tidak terpilih itu akan melakukan ‘move-move’ politik yang mendiskreditkan Mega dan pasangannya atau mereka juga menggabungkan kekuatan dengan pesaing Megawati, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono yang menduduki posisi incumbent? Belum lagi move-move politik dari tokoh-tokoh lain yang walaupun semakin surut pamornya, seperti Gus Dur, namun pencak silat politiknya masih sering membingungkan lawan.

Kita tunggu saja, berapa huruf yang akan muncul untuk nama pendamping Mega dalam teka-teki silang pekan ini.[L4]

http://www.inilah.com/berita/celah/2009/01/27/79214/teka-teki–pendamping-mega/

Celah : 27/01/2009 – 19:56

0 Responses to “Teka-teki Pendamping Mega?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d bloggers like this: