Saatnya Melihat Kiprah Obama

Oleh: Drs. M. Hamdan Basyar, M.Si
(Peneliti Utama pada Pusat Penelitian Politik LIPI dan Direktur Eksekutif The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)

Pada 20 Januari 2009 ini, Barack Obama dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat (AS). Dalam sejarah AS, dia menjadi presiden pertama yang berkulit hitam. Dengan kelihaiannya yang ada pada dirinya, Obama telah menyihir publik AS untuk memenangkan pemilu presiden AS.

Kemampuannya untuk mengukir prestasinya itu telah mengantarkannya sebagai Man of the Year 2008 versi majalah Time. Majalah mingguan ini menyebut Obama telah menghangatkan suasana dingin Desember dan tampil sebagai presiden di masa sulit. Dengan slogan Change we can believe in, Obama mampu menarik ratusan ribu orang untuk mendatangi pidatonya.

Obama memang fenomenal. Kemenangannya disambut di berbagai belahan dunia yang menghendaki adanya perubahan. Di Jakarta, misalnya, di SDN 01 Menteng di Jalan Besuki–tempat Obama kecil sekolah–ada upacara kemenangan Obama. Teman-temannya di Jakarta merasa bangga, karena Obama yang dulu dipanggil Barry itu telah menjadi Presiden AS.

Change yang menjadi tema kampanye Obama telah menyeruak ke antero dunia, sehingga setelah pelantikannya banyak kalangan yang ingin melihat ‘perubahan’ apa yang akan terjadi di dunia. Ekspektasi perubahan yang ditumpukan pada Obama begitu tinggi. Tapi, seberapa besar perubahan itu akan terjadi? Di Timur Tengah, misalnya, apakah Obama akan melakukan tindakan drastis, sehingga wilayah yang dikenal penuh gejolak dan konflik tersebut, berubah menjadi lebih damai dan masyarakatnya akan menikmati kehidupan dengan lebih adil?

Tentu banyak dimensi bila kita membicarakan hubungan Amerika Serikat dan Timur Tengah. Tapi, ada tiga hal dapat menunjukkan bagaimana Obama melihat Timur Tengah, yaitu berkaitan dengan masalah tentara AS di Irak, nuklir Iran, dan masalah Palestina-Israel.

Sejak awal, Obama menentang adanya pengerahan pasukan AS di Irak. Hal itu dikatakannya sebelum invasi AS di Irak. Pada 2 Oktober 2002, Obama dengan jelas menentang rencana Presiden Bush yang akan mengirim pasukannya ke Irak. Ketika sebagian besar politisi AS mendukung pengiriman tentara, Obama justru menolak dengan keras. Menurutnya, pengerahan tentara itu tidak rasional dan hanya akan menimbulkan perang yang tidak perlu. Katanya, ‘‘That’s what Im opposed to. A dumb war. A rash war. A war based not on reason but on passion, not on principle but on politics.”

Makanya, tidak mengherankan bila masalah tentara AS di Irak tersebut menjadi ajang perdebatan waktu kampanye. Obama ingin menarik pasukan AS dari Irak dan akan memperkuat pasukannya di Afghanistan untuk dapat menghancurkan basis Alqaidah. Sebaliknya, calon presiden dari Partai Republik, McCain, ingin mempertahankan tentara AS di Irak, bahkan kalau perlu sampai 100 tahun. Itu adalah perdebatan dalam kampanye. Setelah menjadi Presiden AS, apakah Obama akan segera menarik pasukannya dari Irak?

Wacana penarikan pasukan AS dari Irak adalah untuk menenangkan pemilih AS yang gusar, akibat banyak tentaranya yang terbunuh di Irak. Tampaknya Obama memanfaatkan kegusaran publik AS itu untuk kepentingan kampanye, sehingga ada janji penarikan pasukan.

Tetapi, penarikan pasukan AS yang ditempatkan di negara lain bukanlah persoalan yang sederhana. Di sana, ada kepentingan industri militer AS yang tidak menginginkan tentara segera ditarik. Karena, penarikan pasukan berarti pengurangan pasokan senjata, yang dengan sendirinya akan mengurangi income industri militer. Selain itu, ada kepentingan Pentagon yang ingin menunjukkan kedigdayaan AS dan sekaligus dapat menaikkan pangkat para komandannya. Oleh karena itu, bila Obama ingin menarik pasukan AS dari Irak, dia akan berhadapan dengan kepentingan tersebut. Dia akan menegosiasikan kepentingan itu, sebelum benar-benar menarik pasukan AS dari Irak yang dijanjikan akan dilakukan dalam 16 bulan.

Selain itu, Obama akan berhadapan dengan isu nuklir Iran. Selama masa kekuasaannya, Presiden Bush selalu mencurigai program nuklir Iran akan menjadi senjata nuklir yang dapat membahayakan eksistensi Israel. Sementara itu, pemerintah Iran menjelaskan program nuklir mereka hanya untuk kepentingan damai, yakni energi listrik. Sayangnya, Bush tidak mau berdialog dengan Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad. Akibatnya, hubungan mereka kurang harmonis.

Obama tampaknya ingin ‘mengubah’ keadaan itu. Dalam kampanye, Obama pernah mengatakan akan melakukan dialog dengan Iran. Baginya, dialog akan membuka suatu prespektif yang mungkin dapat dikembangkan menjadi kerja sama. Pada awalnya, ajakan dialog tersebut tanpa prakondisi apa pun. Tetapi, belakangan Obama memberikan pilihan pada Iran, sebagai prakondisi dialog. Bila Iran mau menghentikan program nuklir dan support kepada kelompok teroris, maka AS akan memberikan insentif, seperti menjadi anggota WTO, investasi ekonomi, dan hubungan diplomatik yang lebih baik. Tetapi, bila Iran menolak, maka AS akan meningkatkan tekanan ekonominya dan isolasi politik.

Penghentian program nuklir tentu akan menyulitkan posisi Iran yang membutuhkan energi untuk keperluan industrinya. Tetapi, Obama meyakini program nuklir Iran akan membahayakan eksistensi Israel. Dari sini, tampaknya Obama masih seperti Presiden AS yang lainnya, yakni terlalu mendukung Israel dan mengabaikan kepentingan wilayah di sekitarnya.

Padahal, Presiden Ahmadinejad telah membuka kesempatan dialog. Hal ini, paling tidak, diperlihatkan dengan adanya ucapan selamat dari Presiden Iran tersebut atas terpilihnya Obama sebagai Presiden AS.

Bila hubungan AS-Iran tidak terlalu berubah, bagaimana peran AS dalam perdamaian Palestina-Israel? Menurut buku The Blueprint for Change: Barack Obamas Plan for America yang menjadi ‘buku suci’ perubahannya, Obama menjelaskan akan terus mendorong adanya kerja sama Israel dan Palestina untuk mewujudkan dua negara: yaitu negara Yahudi Israel dan negara Palestina yang hidup berdampingan dengan damai dan aman.

Tetapi, pada masa kampanye, Obama pernah berkunjung ke Israel dan menyatakan komitmennya untuk terus mendukung kepentingan Israel. Dan, ketika Obama terpilih menjadi Presiden AS, Perdana Menteri Israel menyambutnya dengan mengatakan, ‘‘We have no doubt that the special relationship between Israel and the United States will continue and will be strengthened during the Obama administration.”

Sebaliknya, Obama menganggap Hamas sebagai organisasi teroris yang tidak perlu didekati, apalagi diajak negosiasi. Karenanya, Obama mengecam Jimmy Carter, mantan presiden AS dari Partai Demokrat, yang pernah bertemu dengan beberapa tokoh Hamas di Gaza, dalam rangka memahami kepentingan Hamas.

Sikap Obama yang demikian itu, tidak memberikan kontribusi positif bagi perdamaian Palestina-Israel. Apalagi ketika Israel membombardir Gaza, sejak 27 Desember lalu yang dilanjutkan dengan serangan darat, Obama justru diam. Dia tidak melakukan usaha yang dapat menghentikan genosida terhadap Palestina. Lebih dari 1.000 orang tewas dan lebih dari 4.000 orang terluka. Mereka menjerit, menangis, berteriak, memohon bantuan, tetapi Obama belum tergerak mengatasinya. Dia beralasan belum resmi menjadi Presiden AS. Setelah 20 Januari 2009, ketika dia resmi menjadi Presiden, apakah dia dapat mengatasi berbagai hal itu?

Bagaimanapun Obama adalah Presiden AS. Artinya, dia akan melakukan perubahan selama menguntungkan kepentingan AS. Di Timur Tengah, negara zionis Israel akan tetap menjadi sekutu dekatnya. Hal ini mengingat adanya lobi Yahudi yang cukup kuat di Amerika. Negara-negara Arab di sekitar Teluk Parsi juga akan tetap menjadi ‘teman dekat’, selama mereka mau memasok minyak untuk kebutuhan industri Amerika dan mau menanam kekayaannya di Amerika.

Obama tidak dapat diharapkan untuk dapat mengubah keadaan Timur Tengah menjadi lebih baik dalam waktu dekat ini. Apalagi dia akan disibukkan untuk mengurus ekonomi AS yang tengah mengalami krisis cukup parah. Maka, sadarlah dari ‘mimpi’ perubahan ala Obama.

Dimuat di koran Republika, Selasa, 20 Januari 2009

Sumber: http://www.republika.co.id/koran/0/27007.html

1 Response to “Saatnya Melihat Kiprah Obama”


  1. 1 Agus March 10, 2009 at 6:53 pm

    wah politik ya? aq masih bingun dengan politik


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d bloggers like this: