Obama dan Politik Luar Negeri AS

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
(Profesor Intermestic Affairs LIPI)

Barack Husein Obama akan dilantik pada Selasa (20/1) sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) ke-44. Ketika kereta yang membawa Obama dari Philadelphia singgah sebentar di Wilmington, Delaware, untuk menjemput Wakil Presiden AS Joe Biden, dan kemudian berjalan perlahan ke Washington DC, jutaan penonton televisi di berbagai penjuru dunia akan menyaksikan upacara inaugurasi itu secara langsung.

”Hari-hari mendatang,” kata Obama di Philadelphia, Sabtu (17/1) lalu, ”Bukan hanya soal inaugurasi seorang Presiden Amerika, tetapi juga soal perayaan bagi warga AS”. Ini berarti, Obama bukan hanya menyatakan bahwa sejarah Amerika baru telah terukir dengan amat manis di mana siapa pun, asal mampu, dapat menjadi Presiden AS, melainkan juga ajakan pada rakyat Amerika bagaimana melalui sistem demokrasi yang amat matang, pemerintah dan rakyat dapat bahu-membahu membangun kembali ekonomi AS yang dilanda resesi dan mengembalikan citra AS di mata dunia.

Berbagai tugas berat sudah ada di pundak Obama pada hari pertama pelantikannya. Dari sisi domestik, rakyat Amerika berharap Obama dapat membalikkan situasi resesi ekonomi yang membebani rakyat menjadi keadaan yang memberi masa depan yang cerah bagi anak-anak Amerika.

Rakyat AS juga berharap agar pemerintah dapat memperluas layanan kesehatan dan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih layak dibanding delapan tahun di bawah Presiden George W Bush dari Partai Republik.

Persoalan internasional pun sudah menanti untuk diselesaikan, antara lain penutupan penjara di Teluk Guantanamo, penarikan pasukan AS dari Irak, soal pembangunan nuklir Iran dan hubungan AS-Iran, masa depan hubungan AS-Rusia, dan kebijakan positif AS untuk menyelesaikan konflik di Jalur Gaza.

Obama bukan hanya diuntungkan oleh duet ”Obama-Biden”yang menggabungkan pemimpin muda yang energik penuh semangat dan politisi tua yang amat matang serta penuh pertimbangan. Di bidang politik luar negeri, AS juga memiliki ”duet” lainnya, yakni ”Obama-Clinton”.

Hillary Clinton, mantan pesaing utamanya saat pemilihan capres dari Partai Demokrat, dipilih Obama menjadi Menteri Luar Negeri AS. Itu sudah mendapatkan persetujuan dari Senat AS. Hillary bukan hanya mantan ibu negara yang disegani, melainkan juga pernah menjadi anggota Senat AS dari negara bagian New York yang menunjukkan kepiawaiannya dalam urusan luar negeri.

Diplomasi dengan ”Smart Power”
Ada perbedaan mendasar antara Partai Demokrat dan Partai Republik, walaupun kedua partai itu sama-sama menganut ideologi liberal ala Amerika. Partai Republik lebih menonjolkan nuansa konservatisme ketimbang Partai Demokrat yang lebih menonjolkan gaya puritan demokratis dari ideologi liberalisme.

Dibandingkan dengan Partai Republik, misalnya, Partai Demokrat lebih enggan menggunakan kekuatan militer dalam penerapan politik luar negerinya. Persoalan HAM, demokrasi, dan lingkungan hidup tetap menjadi bagian penting dari politik domestik dan luar negeri AS.

Partai Demokrat lebih memfokuskan diri pada pembangunan ekonomi AS, jaminan sosial, penerapan pajak progresif yang konsisten (khususnya penarikan pajak yang tinggi pada orang kaya AS), pelayanan kesehatan yang lebih baik, perhatian pada pendidikan yang tersebar dan bermutu di seluruh negeri, dan tidak enggan untuk menggunakan kekuatan negara demi keadilan sosial.

Hal penting yang perlu dipahami, penerapan politik luar negeri AS tidaklah akan berubah secara total dan drastis dari pemerintahan Republik ke Demokrat. Berbagai perjanjian internasional atau MoU yang sudah ditandatangani AS dengan berbagai negara tentunya akan tetap berlaku dan dihormati, termasuk berbagai hal yang terkait dengan peningkatan hubungan militer AS dan Indonesia.

Berbeda dengan gaya ”Jangoism” atau ”Bang-bang diplomacy” (budaya dalam film koboi AS yang gampang menarik pistol/ senapan dalam menghadapi lawan atau menyelesaikan persoalan) era pemerintahan Republik, politik luar negeri AS era duet ”Obama-Clinton” dari Partai Demokrat akan lebih mengedepankan diplomasi dengan ”smart power” (kekuatan cerdas).

Ini berarti diplomasi bukan hanya didukung oleh kapabilitas militer semata, melainkan oleh pemanfaatan seluruh kapabilitas yang dimiliki AS seperti ekonomi, intelijen, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta diplomasi damai lainnya.

Meski AS dalam keadaan resesi ekonomi, tak dapat dipungkiri bahwa AS masih merupakan negara adidaya yang ramah dan masih diharapkan untuk memainkan peran pentingnya dalam geliat dinamika politik, ekonomi, pertahanan dan keamanan, serta sosial-budaya internasional.

China, India, Rusia, dan Brasil dapat saja dikatakan sebagai kekuatan-kekuatan dunia yang sedang bangkit atau bangkit kembali. Namun,kekuatan kumulatif AS masih jauh lebih unggul dari negara-negara tersebut. Eropa, Timur Tengah, dan Asia Timur Laut akan menjadi mandalamandala utama yang mendapatkan perhatian khusus dalam politik luar negeri AS.

Jangan heran bila masa depan hubungan AS-Rusia, AS-Uni Eropa, AS-negara-negara Timur Tengah, AS dengan Jepang, China,Taiwan dan Korea Selatan akan tetap menjadi perhatian utama AS. Kalaupun Indonesia disebut-sebut baik oleh Obama maupun Hillary Clinton sebagai negara yang dapat memainkan peran positif di Asia Tenggara dan internasional, Indonesia bukanlah negara terpenting dalam perhatian AS ke Asia Tenggara.

Singapura,Thailand, Vietnam,dan Filipina jauh lebih mendapatkan tempat khusus dalam politik luar negeri AS. Masa kecil Obama di Indonesia hanya menempatkan Indonesia sebagai ”negeri yang penuh nostalgia masa kanak-kanak” dan belum tentu menjadi mitra utama di Asia Tenggara.

Bagaimana pula kebijakan AS untuk menyelesaikan konflik di Jalur Gaza? Ini bukan perkara mudah,walau tetap dapat dilakukan AS. Sesungguhnya, Partai Demokrat jauh lebih dekat dengan lobi-lobi Yahudi di AS seperti dengan America-Israel Public Affairs Committee (AIPAC) dibandingkan dengan Partai Republik.

Namun, masyarakat Yahudi Amerika juga ada yang sangat progresif dan properdamaian dengan slogan kampanye mereka ”PeaceNow” seperti organisasi ”J Street” yang baru berdiri di AS. Kampanye ”PeaceNow” juga dikembangkan oleh kalangan Yahudi di Israel sendiri dengan slogan ”Peace in the Palestine=Peace in Israel”.

Di sinilah duet pembuat keputusan dan pelaksana politik luar negeri AS ditantang, apakah kedekatannya dengan Israel dan lobi-lobi Yahudi serta kuku-kuku AS yang tertancap di beberapa negara Arab akan mampu memberi sumbangsih positif bagi perdamaian di Timur Tengah.

Duet ”Obama-Clinton” di bidang politik luar negeri akan mendapatkan acungan dua jempol jika mereka bukan saja mampu menghentikan serangan Israel ke wilayah Gaza yang dikuasai kelompok Hamas, melainkan juga jika AS dapat mendesak Israel, negara-negara Arab,dan dunia untuk mengakui Palestina sebagai sebuah negara dan bangsa.(*)

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/205901/

4 Responses to “Obama dan Politik Luar Negeri AS”


  1. 1 Ches February 12, 2009 at 9:09 pm

    Iya semoga saja Duet Obama-Clinton bisa membawa iklim politik Dunia yang lebih kondusif.

  2. 2 lulu February 15, 2009 at 8:46 am

    saya berharap obama dapat meperbaiki pemerintahan AS dimata dunia..karena selam ini pemerintahanya selalu bergaya ala koboi..mentang-mentang menjadi negara adi daya

    semoga AS menjadi negara yang baru
    dan indonesi menjadi teman diplomatik yang baik bagi AS

  3. 3 suke March 4, 2009 at 6:00 pm

    pak tolong lebih dijelaskan hubungan Demokrasi Indonesia-Amerika dunkz,thx B4

  4. 4 aldo November 30, 2015 at 10:31 am

    bagaimana pandangan obama tentang nuklir korea utara


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d bloggers like this: