Berikan Bekal Politik Alternatif

Oleh: Drs. S.H. Sarundajang
(Ketua Umum Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI), dan Gubernur Provinsi Sulawesi Utara)

Konsep otonomi daerah dan sistem pemilihan kepala daerah secara langsung merupakan buah karya AIPI. Konsep yang akhirnya dijadikan kebijakan pemerintah itu dihasilkan dari seminar-seminar singkat AIPI ini.Tahun ini, tepatnya hari ini, AIPI kembali menggelar seminar politik. Tema yang diangkat soal kepemimpinan, kebangsaan dan demokrasi.

Kira-kira rekomendasi apa yang akan dihasilkan dari seminar tersebut? Berikut penjelasan Ketua AIPI Drs SH Sarundajang kepada wartawan Fajar Akbar Hamdan, di Hotel Imperial Aryaduta, Senin 10 November.

Apa saja agenda yang akan dibicarakan dalam seminar ini?

Ada tiga bahasan utama kita, yakni demokratisasi, kepemimpinan dan kebangsaan. Pembicaranya ada 23 orang dan semua pakar di bidangnya. Pelaksanaannya 2 hari. Sepengahuan saya, untuk pelaksanaan seminar politik, boleh dikata ini yang terbesar. Menariknya nanti ada panel diskusi yang mengulas problematika negara demokrasi pada era otonomi daerah.

Prof Ryass Rasyid, Prof Nazaruddin (Mantan Ketua KPU Pusat), Gubernur Sulsel, dan saya sendiri akan menjadi pembicara. Sri Sultan Hamengkubuwono juga kita jadwalkan menjadi pembicara. Tapi kita masih tunggu konfirmasi. kedatangannya.

Rencananya, seminar ini dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Tapi karena presiden SBY ek Amerika Serikat, maka wapres harus tetap berada di Jakarta. Jadi nanti dibuka oleh Gubernur Sulsel.

Mungkin ada alasan sehingga seminar ini dilangsung di Makassar?

Itu sebenarnya ide yang ditawarkan pak Ryass. Diharapkan seluruh peserta juga bisa melihat perkembangan politik yang ada di Makassar.

Apa tujuan utama seminar ini?

Tentu kita ingin mengumpulkan berbagai pandangan tentang kebangsaan, demokrasi dan kepemimpinan. Tahun 2009 akan menjadi tahun politik. AIPI ini memberikan sumbangsih pengetahuan kepada para calon pemimpin bangsa, calon-calon legislatif, para praktisi politik. Kita ingin agar wawasan mereka bisa bertambah.

Mungkin saja mereka sudah punya platform pergerakan politik. Tapi setidaknya, dari seminar ini, AIPI bisa memberikan bekal pengetahuan politik alternatif. Itu satu segi.

Di segi lainnya, AIPI punya kewajiban mengadakan pengkajian yang tidak putus-putusnya dalam rangka memberikan sumbangsih yang nyata terhadap perkembangan ilmu politik Indonesia. Kita lihat literatur yang ada, seperti ilmu politik Amerika, Inggris, Asia dan sebagainya, Kita juga harus punya ilmu politik Indonesia. Ini yang kita kaji lebih dalam lagi.

Kenapa saya katakan itu? Sebab tiap bangsa memiliki pandangan filosofi. Dan itu sangat memengaruhi ilmu politik. meski prinsip ilmu politik secara universal memang ada, tetapi tiap bangsa seharusnya punya pandangan politik tersendiri.

Yang ketiga, kehidupan kita juga dipengaruhi oleh lingkungan strategis. Indonesia, kan, dipengaruhi oleh Asia Pasifik dan dunia.

Bagi mahasiswa politik, seminar ini akan menjadi sangat menarik. Kalau dalam kampus mereka hanya menimba ilmunya, di sini (seminar), kita akan melihat langsung ilmuan dan praktisi politiknya.

Tiap seminar kan ada rekomendasi. Kira-kira apa yang akan menjadi rekomendasi AIPI kali ini?

Pada seminar ke-22 di Banjarmasin, kita rekomendasi soal evaluasi Pilpres. Sebelumnya di Manado kita evaluasi pelaksanaan otonomi daerah. Untuk yang saat ini, kita akan lihat nantinya seperti apa. Sebab tema yang kita bicarakan akan sangat luas.

Kabarnya pilkada untuk gubernur nantinya dihapus. Apa itu akan menjadi pembahasan dalam seminar?

Memang banyak pendapat tentang pemilihan langsung gubernur. Memang ada yang mengatakan, kita belum waktunya atau belum siap melaksanakan otonomi di kabupaten/kota. Jadi sebaiknya dikelola oleh pemerintah provinsi.

Tapi ada juga juga yang mewacanakan sebaliknya, bahwa gubernur tidak usah dipilih langsung. Tapi ditunjuk saja. Masalahnya otonomi daerah tetap ada di kewenangan kabupaten/kota. Ada sistem negara seperti itu.

Sistem pemilihan langsung di tiap tingkatan kepemimpinan ini juga dinilai rancu. Gubernur dipilih langsung, walikota dan bupati juga dipilih langsung bahkan sampai kepada desa juga begitu. Rakyat jadi bingung.

Ya sudahlah, gubernur tidak usah lagi dipilih langsung. Karena yang rakyat kan tinggal kabupaten dan kota. Jadi kenapa gubernur harus dipilih lagi? Ada yang mengatakan seperti itu. Soal itu, mungkin nanti akan disinggung dalam seminar ini. Tapi kita memang sudah menyiapkan seminar khusus yang mengangkat masalah itu.

Boleh disebut rekomendasi mana saja dari AIPI yang memberikan sumbangsih dalam kepentingan umum?

Salah satunya pilkada langsung. Kuota perempuan kita malah yang lebih awal. AIPI juga penyumbang besar dalam reformasi pemerintah tentang otonomi daerah. Pak Ryass kan dulu pernah mengetuai AIPI ini.

Kepada siapa rekomendasi itu diberikan?

Kita berikan pada presiden, wapres MPR/DPR-RI dan praktisi politik.

Lantas bagaimanan rekomendasi itu disosialisasikan kepada masyarakat umum?

Kita punya majalah, jurnal politik. Di situlah hasil seminar, rekomendasi-rekomendasinya kita laporkan. Majalah itu kita sebar ke tengah-tengah masyarakat.

Bicara soal kepemimpinan nanti, apakah AIPI akan mengangkat tokoh khusus?

Kalau maksudnya tokoh itu dari calon pemimpin yang mulai muncul di negeri ini, saya rasa tidak ya. AIPI ini tidak berpihak kepada orang atau golongan tertentu. Namun memberikan gambaran tentang ciri serta bentuk kepemimpinan yang idel, tentu saja akan kita ungkapkan.

Apakah seminar ini juga akan mengangkat tema yang berhubungan dengan dunia internasional?

Ya, itu sudah pasti. Kiat kan baru saja menyaksikan bagaimana luar biasanya pemilihan presiden di Amerika. Nah, kita akan kaji sejauh mana pengaruh Obama terhadap Indonesia. Mungkin saja, ada pesan-pesan yang bisa kita tangkap dari praktik politik dan kenegaraan yang berlangsung di AS itu.

Yang kedua, nanti akan ada WOC (World Ocean Confrence) yang akan digelar di Manado tahun depan. Ini konfrensi tingkat dunia tentang keluatan yang akan diikuti 121 negara yang punya laut. Namun intinya terdapat pada hari terakhir konfrensi ini. Yaitu CTS (Coral Triangel Summit) yang merupakan inisiatif Indonesia. CTS ini dihadiri enam kepala negara.

Isu penting yang akan dibahas adalah penyelamatan terumbu karang. Terumbu karang kan berfungsi sebagai sumber biota laut dan juga berperan penting dalam mereduksi karbon yang menjadi penyebab utama pemanasan global.

Nah, terumbu karang terbesar terdapat di perairan Malaysia, Indonesia, Filiphina, Solomon Island, Papua Nugini dan Timor Leste. Kalau ini rusak, bisa menjadi ancaman serius terhadap kehidupan manusia. Saya sudah 2 kali bicara di PBB mengenai rencana konfrensi ini.

Dunia menganggap konfrensi itu penting karena ini adalah masalah keluatan tidak pernah lagi diangkat sejak konfrensi di Jamaica 1982 lalu.

Mengapa AIPI ingin terlibat dalam WOC?

Politik itu luas. Dari konfrensi ini, kita harus mengetahui kebijakan politik dunia tentang keluatan itu seperti apa. Kita punya kewajiban untuk mengetahui bagaimana negara akan laut, masyarakat pesisir dan pulau-pulaunya. (akbarhamdan@gmail.com)

Dimuat dikoran Fajar, Makassar, 11 November 2008

0 Responses to “Berikan Bekal Politik Alternatif”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

November 2008
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

%d bloggers like this: