Pesan Perdamaian di Aceh

Oleh: Moch. Nurhasim, S.IP, M.Si
Peneliti pada Pusat Penelitian Politik LIPI
dan Anggota Komisi Publikasi AIPI

Tanggal 11 Oktober 2008 lalu Hasan Tiro kembali mengunjungi Aceh setelah kepergiannya pada 29 Maret 1979. Pulang kampungnya deklarator GAM kali ini ke Aceh berbeda dengan saat pulang pada 1976. Pada waktu itu Hasan Tiro pulang-pergi Amerika Serikat-Aceh selama tiga kali untuk menemui sanak keluarganya dan kolega-koleganya agar mereka mendukung niatnya mewujudkan hak menentukan sendiri bagi “Bangsa Aceh Sumatera.

” Kini dia datang dalam rangka “rindu kampung halaman”—yang hampir 30 tahun ditinggalkan demi cita-citanya memerdekakan Aceh, yang membuatnya harus berhadapan dengan Rezim Soeharto pada masa itu.

Disambut upacara tepung tawar (peusejuk), Hasan Tiro disambut bak pahlawan yang baru pulang oleh masyarakat Aceh dari berbagai kalangan. Masyarakat yang selama ini mengenal sosok Hasan Tiro sebagai simbol perlawanan Aceh terhadap Indonesia, berbondong-bondong ingin sekadar memandang dari dekat tokoh yang selama ini diyakini oleh orang Aceh sebagai Wali Nanggroe.

Momentum Rekonsiliasi
Ada baiknya Indonesia membuka diri atas kehadiran Hasan Tiro sebagai putra bangsa yang telah lama pergi. Bukankah Aceh dirancang untuk diselesaikan dengan cara bermartabat, tetapi kenapa tidak ada satu pun perwakilan dari Pemerintah Republik Indonesia yang datang ke Aceh.

Wakil Presiden Jusuf Kalla yang batal hadir mengirimkan dr Farid Husein, orang kepercayaannya untuk ikut mendampingi rombongan Hasan Tiro. Pulang kampungnya Hasan Tiro adalah momentum paling tepat. Pertama, mengakhiri seluruh perbedaan “ideologis” antara RI dan GAM.

Kedua, memberikan tempat yang bermartabat sebagai salah satu pendekatan mengambil hati putra Aceh yang telah lama pergi. Ketiga, menjadikan sosok dan simbol Hasan Tiro sebagai perekat perdamaian di Aceh yang langgeng dan mengakhiri segala konflik yang terjadi selama ini.

Memartabatkan tokoh proklamator GAM dapat menjadi wadah untuk mendialogkan seluruh perbedaan yang masih tersisa dan membicarakan Aceh masa depan. Reaksi keras sejumlah pihak terhadap surat Malik Mahmud yang dikirimkan kepada Wakil Presiden RI karena menggunakan logo GAM sepatutnya tidak terjadi.

Justru momentum ini dapat dijadikan sebagai momentum rekonsiliasi politik tingkat tinggi, sehingga GAM dan Hasan Tiro benarbenar kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Upaya mengubur masa lalu tanpa dialog dari hati ke hati tidak mungkin dapat dilakukan.

Reaksi Jakarta yang keras justru dapat menimbulkan benih kebencian dan ketidakpercayaan kepada pemerintah pusat. Padahal, semangat penyelesaian masalah Aceh adalah semangat penyelesaian konflik melalui pendekatan kemanusiaan, tidak saling mengalahkan, tetapi saling memartabatkan.

Pendekatan resolusi konflik ini memosisikan kedua pihak sederajat. Kita mungkin masih ingat ketika Daud Beureueh turun gunung pada 1963 disambut dengan upacara kemiliteran secara sederhana oleh Kolonel Yasin yang mewakili pemerintah pusat.

Sebelumnya telah dilakukan ikrar lamteh, sebuah janji kesetiaan kepada Republik Indonesia. Dengan cara itu seluruh persoalan yang berkaitan dengan “pemberontakan DI/TII Daud Beureueh” dieliminasi hanya sebagai sebuah peristiwa. Akhirnya peristiwa DI/TII dapat diakhiri dan Aceh dapat membangun.

Pesan Perdamaian
Kehadiran tokoh kunci GAM ke Aceh dan pesan perdamaian yang disampaikan melalui pidatonya dapat dimaknai beberapa hal. Pertama, keinginan tulus tokoh ini untuk kembali ke kampung halaman.Kedua, mengakhiri prasangka bahwa Hasan Tiro tidak setuju atas perundingan Helsinki yang diembuskan pihak-pihak yang tidak menyukai perdamaian Aceh.

Ucapan terima kasih Hasan Tiro kepada Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia atas komitmennya menempuh perdamaian di Aceh merupakan bukti sejarah. Ketiga, mendekatkan sang tokoh kepada situasi Aceh yang sesungguhnya, yang selama ini dipahami oleh sebagian tokoh-tokoh GAM yang tinggal di luar negeri melalui beritaberitadanpesandaritokoh- tokohGAM lain.

Melihat sendiri Aceh akan lebih mendekatkan perasaan keacehan dan keindonesiaan sekaligus,bahwa Aceh telah mengalami perubahan yang lebih baik dibandingkan masa lalu. Dalam sejarah hubungan Indonesia-Aceh masa lalu,Hasan Tiro tidak pernah mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah RI.

Tetapi kedatangannya kali ini lain,beberapa kali dalam pidatonya menyampaikan rasa syukur dan ucapan terima kasih. Meski dalam bahasa Aceh tidak dikenal kata “terima kasih,” hal itu justru menunjukkan kerendahan hati sang tokoh bahwa perdamaian amat penting bagi masa depan masyarakat Aceh dan Indonesia.

Posisi Wali Nanggroe
Secara informal Hasan Tiro diakui oleh masyarakat Aceh sebagai “Wali Nanggroe, ”atau penerus kepemimpinan setelah era kesultanan berakhir. Dalam UU No 11/2006 dan MoU Helsinki sebenarnya posisi ini diakui keberadaannya.

Namun hingga kini masih belum terisi atau kosong. Ada baiknya Pemerintah RI mempertimbangkan untuk memformalkan posisi “Wali Nanggroe” ini dengan harapan seluruh persoalan masa lalu segera dapat diakhiri.

Bukankah dengan mengalah selangkah demi kepentingan perdamaian abadi di Aceh lebih penting daripada memperuncing persoalan yang justru akan menimbulkan banyak korban. Bagaimanapun, Hasan Tiro harus dipandang sebagai salah satu tokoh yang dapat mempersatukan perbedaan- perbedaan dalam tubuh GAM dan kelompok di luar GAM yang masih tersisa hingga saat ini dengan pihak Indonesia.

”Pat ujeun yang hana pirang, pat prang yang hana reuda, tidak ada hujan yang tidak reda, dan tidak ada perang yang tidak selesai” dapat menjadi simbol bagi perdamaian abadi di Aceh. Kita semua berharap kehadiran Hasan Tiro akan menjadi air hujan yang menyejukkan sekaligus dapat meredakan semua ketegangan di bumi tanah rencong.(*)

1 Response to “Pesan Perdamaian di Aceh”


  1. 1 lowonganker99 October 21, 2008 at 3:18 pm

    Assalamu’alaikum, wr wb,
    sebelumnya saya cukup senang dengan blog kamu, isinya bagus, dan karyanya menarik dan dinamis, dan bermanfaat. oleh karena itu saya lagi coba bekarya melalui blog saya, terima kasih teman..
    salam kenal saya buat semua komunitas blogger dan pecinta dunia internet, dan semua teman yang ada di alam dunia manya ini dan pengunjung semuanya, semoga kita sama sama dapat membangun Aceh untuk lebih maju baik dari metalitaskah atau dari berbagai sisi lain dengan memberikan sedikit ilmu dan waktu kita untuk orang orang yang sangat membutuhkan uluruan tanga kita diluar sana yang tiap hari mengakses dunia manya, salam buta semua teman yang telah membantu saya dalam mengenal blogging.
    semoga ini menjadi tali persaudaraan diantara kita untuk mejadikan ukhwah saling tukar informasi, komunikasi, pengetahuan, pengalaman dan wawasan dalam membangun pribadi yang baik untuk saling keterbukaan rasisi positif terhadap suatu peroalan generasi kedepan serta dapat menjalin persaudaraan dengan penuh warahmah.
    Bagi yang mau bantu menyebarkan informasi lowongan kerja, baik buat teman, saudara maupun komunitas anak internet, maupun personality.
    kunjungi blog gue di
    http://lowonganker99.wordpress.com
    Terima kasih, salam kenal buat semuanya..!!
    By, Computer


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d bloggers like this: