Dinamika Penjaringan Caleg

Oleh: Drs. Dede Mariana, MA
Ketua Asosiasi Ilmu Politik Indonesia Cabang Bandung

Pemilu 2009 meski puncaknya baru akan berlangsung tanggal 10 April 2009, tapi gaungnya sudah mulai terasa dari sekarang. Beberapa UU baru yang termasuk dalam UU Politik sudah disahkan sebagai penunjang pelaksanaan pemilu, misalnya UU No. 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pemilu dan UU No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. Sementara itu, RUU tentang Susunan dan Kedudukan Anggota MPR, DPR, DPD, dan DPRD masih menunggu untuk disahkan dalam waktu dekat ini.

Tanpa disadari masyarakat umum, sebenarnya tahapan Pemilu 2009 sudah dimulai, yang ditandai dengan penjaringan calon-calon legislatif yang akan diajukan parpol untuk menduduki kursi DPR dan DPRD. Bahkan pencalonan untuk calon anggota DPD pun telah dimulai, meski peminatnya sebanyak untuk calon anggota legislatif. Yang menarik sekarang adalah, penjaringan calon anggota legislatif (caleg) tidak melulu menjadi kewenangan parpol. Ada beberapa parpol yang berani go public dengan melakukan rekrutmen terbuka, bahkan memasang iklan di media cetak untuk menarik minat anggota masyarakat untuk bersedia dicalonkan dari parpol tersebut. Ketentuan kuota 30% untuk pengurus parpol dan caleg perempuan juga menyebabkan parpol-parpol bersaing ketat meraih figur perempuan untuk ‘dilamar’ sebagai pengurus atau caleg.

Mengamati dinamika perjaringan caleg menjelang Pemilu 2009 ini, ada sejumlah poin yang perlu menjadi catatan. Pertama, maraknya kecenderungan parpol-parpol untuk merekrut para artis sebagai caleg. Upaya ini tidak terlepas dari sistem pemilihan yang sekarang digunakan, yakni selain memilih parpol juga memilih orang. Karena itu, popularitas figur menjadi penting untuk meraih suara sebanyak-banyaknya. Keberhasilan sejumlah artis meraih jabatan politik sebagai wakil gubernur atau wakil bupati menjadi justifikasi pentingnya popularitas dalam ajang pemilihan langsung. Meski di sisi lain, ramainya artis turun ke gelanggang politik juga masih menjadi kontroversi mengingat tidak semua artis memiliki pengalaman berpolitik yang memadai.

Fenomena kedua yang menarik diamati dalam penjaringan caleg adalah kemunculan generasi kedua dan ketiga dari penguasa masa lalu dengan memanfaatkan isu kepemimpinan muda untuk meraih simpati pemilih muda. Nama-nama seperti Puan Maharani (anak Megawati), Dave Laksono (anak Agung Laksono), Sandiaga Uno (anak Mien Uno), Eddy Baskoro (anak Susilo Bambang Yudhoyono), Prabowo Subianto (anak ekonom Soemitri Djojohadikusumo dan mantan menantu Soeharto), dan lain-lain mewarnai bursa caleg. Usia muda, kaya, berpendidikan, menarik secara fisik, plus nama besar yang diwariskan menjadi modal yang membuat mereka layak dilirik parpol-parpol. Selain mereka, figur-figur muda dari kalangan aktivis parpol mulai bermunculan sebagai caleg. Isu kepemimpinan muda atau wacana politisi balita (bawah lima puluh tahun) memang tengah menjadi digandrungi publik. Figur-figur muda dianggap dapat membawa pembaharuan dalam praktik pemerintahan dan dinilai relatif tidak terkait dengan penyimpangan-penyimpangan di masa lampau. Namun, tampaknya isu ini perlu disikapi lebih dari sekedar memunculkan caleg-caleg berusia muda. Karena pertimbangan track record dan pemahaman akan dunia politik tetap diperlukan untuk menseleksi figur-figur muda tersebut.

Maraknya kemunculan figur muda dalam dunia politik seolah menyadarkan kita bahwa ada keterputusan dalam regenerasi kepemimpinan. Selama berpuluh-puluh tahun, tidak banyak generasi muda yang tertarik masuk dunia politik. Sementara di lingkungan kampus, aktivitas politik dibatasi. Di lingkungan parpol dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat, pendidikan politik cenderung menjadi formalitas belaka. Karena itu, kemunculan figur muda dalam politik belakangan ini menjadi hawa segar, sekaligus menyadarkan kita bahwa perjalanan reformasi ternyata telah memunculkan generasi pemimpin baru.

Nuansa keterbukaan dan partisipasi dalam penjaringan caleg memang sangat kentara dalam penyelenggaraan pemilu kali ini. Parpol-parpol seolah ingin menepis berbagai analisis politik selama ini yang menunjukkan menurunnya kepercayaan publik pada parpol. Caranya, dengan menerapkan rekrutmen terbuka dalam menjaring para caleg. Ini adalah kecenderungan ketiga yang berkembang saat ini. Sejumlah parpol berani menerapkan metode rekrutmen terbuka untuk mengakomodir figur-figur potensial dari kalangan masyarakat. Bahkan juga menerapkan metode penentuan caleg terpilih dengan menggunakan suara terbanyak, bukan dengan nomor urut lagi. Namun, ada juga parpol yang masih menerapkan metode rekrutmen yang berbasis pada kekuatan kader-kadernya. Penentuan terpilihnya caleg pun masih didasarkan pada nomor urut.

Perbedaan dalam metode rekrutmen ini sebenarnya mengindikasikan sejauhmana kekuatan internal parpol dalam menyiapkan kader-kadernya. Dengan menerapkan metode rekrutmen terbuka, memang terkesan partisipatif. Namun, di sisi lain, juga mengesankan parpol tersebut kurang memiliki kader yang siap diajukan sebagai caleg. Keberanian parpol untuk menerapkan pilihan caleg dengan suara terbanyak dan bukan dengan nomor urut juga menarik dianalisis. Apakah ini merupakan bukti bahwa parpol mulai terbebas dari kungkungan oligarkhi para elitnya, ataukah sekedar taktik promosi untuk menarik minat para figur populer yang tengah mencari ‘kendaraan’ untuk menjadi caleg.

Berbagai kecenderungan tersebut sesungguhnya menyisakan pekerjaan rumah yang belum tertuntaskan saat ini, yakni soal rekrutmen politik dan kaderisasi yang menjadi langkah awal untuk regenerasi kepemimpinan. Isu ini tidak hanya terkait dengan soal penjaringan caleg, tapi juga dengan pemilihan presiden dan kepala-kepala daerah nantinya. Dalam jangka panjang, popularitas tidak bisa terus-menerus dijadikan pertimbangan utama karena masyarakat akan semakin cerdas dalam menilai caleg-caleg yang ditawarkan. Artinya, parpol harus mulai melakukan pembenahan internal agar menjadi partai kader. Menawarkan rekrutmen terbuka memang bisa meraih simpati publik, namun dalam jangka panjang, akan memunculkan permasalahan baru soal loyalitas dan keberlanjutan parpol. Keberlanjutan parpol sangat ditentukan oleh kemampuan parpol melakukan transfer ideologi pada kader-kadernya, dan dengan kesamaan ideologi ini, loyalitas yang terbentuk menjadi loyalitas yang kuat. Inilah yang seharusnya menjadi agenda jangka panjang parpol.

Menghadapi Pemilu 2009 nanti, parpol bisa saja memfokuskan diri pada agenda jangka pendek untuk meraih kekuasaan dengan memenangkan sebanyak mungkin kursi di parlemen pusat dan daerah. Namun, masyarakat pun memiliki pertimbangan sendiri yang kritis dalam menilai kinerja parpol selama 5 tahun terakhir. Masa kampanye yang panjang dalam Pemilu 2009 harus benar-benar dimanfaatkan parpol untuk membangun image (kesan) yang positif di mata publik. Pergunakan sebaik mungkin strategi pemasaran politik (marketing politics), termasuk dengan memperhatikan perkembangan isu-isu publik selama 9 bulan masa kampanye agar parpol mampu mencuatkan isu yang populis. Di belakang layar, tim sukses parpol juga harus bekerja serius menggarap berbagai alternatif solusi yang bisa ditawarkan pada masyarakat untuk mengatasi masalah kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, parpol jangan hanya mengandalkan popularitas figur, apalagi yang direkrut semata-mata untuk kepentingan pragmatis menang dalam Pemilu 2009. Masih ada agenda yang jauh lebih penting bagi parpol untuk melakukan konsolidasi internal untuk memulihkan kepercayaan masyarakat. Karena itu, masa penjaringan caleg dan masa kampanye harus benar-benar dimanfaatkan parpol untuk memunculkan kader atau simpatisan parpol yang kompeten, yang memiliki track record yang baik. Dukungan parpol secara kelembagaan pun harus diperkuat sehingga para caleg dapat saling berkompetisi dengan cerdas, mampu menawarkan pembaharuan yang rasional untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini. Hanya dengan cara inilah, Pemilu 2009 akan punya nilai tambah bagi pencerahan politik masyarakat.

Dimuat di Harian Umum Kompas Jabar, 3 September 2008

0 Responses to “Dinamika Penjaringan Caleg”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

September 2008
M T W T F S S
« Aug   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

%d bloggers like this: