Kenaikan BBM dan Pertaruhan SBY

Oleh: Syafuan Rozi Soebhan, M.Si
Peneliti Pusat Penelitian Politik (P2P) – LIPI dan Anggota Komisi Advokasi dan Pengabdian Masyarakat AIPI

Minyak dunia dan domestik naik bukanlah kutukan bagi kita. Ia peluang besar untuk bisa dimanfaatkan. Kemandirian bangsa dan kompetisi adalah kuncinya.

Kita manfaatkan septic tank rumah kita, ampas tahu, kotoran ternak untuk menjadi biogas sebagai alternatif minyak tanah. Kita massalkan pembuatan dan pengunaan peralatan (knalpot, kumparan magnet, elektrolizer dari botol kecap, dan lain-lain) untuk penghemat energi kendaraan kita. Kita dorong pemanfaatan teknologi tepat guna campuran olahan ubi kayu, jagung, jarak, nira yang menjadi metana untuk biopremium dan CPO kelapa sawit untuk biodiesel. Kalau bisa menjadi industri rumahan dan perusahaan daerah.

Sebanyak 10-30 persen campuran bahan nabati tersebut menjadi barang komplementer untuk penghematan minyak bumi kita. Mari kita dukung manufaktur dan pemasaran temuan fuel-cell, prototype sel surya, mobil listrik hybrid, karya ilmuwan dan penemu.

Tak mudah
Sebagai Presiden SBY kurang beruntung. Dia harus menghadapi berbagai macam krisis. Mulai dari tsunami dan rangkaian bencana alam lain, ke krisis harga minyak yang terjadi dua kali, tahun 2005 dan hingga 2008. Juga harga pangan dunia (kedelai, minyak goreng, beras, gula) yang melonjak tajam.

Kalau bersama kita bisa. Bisa perlahan membangun kemandirian bangsa. Kalaupun kontrak karya sulit dibongkar, seperti negeri Bolivia dan Venezuela, kita tetap bisa membangun kompetisi BUMD perminyakan (misalnya di Sumsel, Riau, Kaltim, Papua Barat) dengan BUMN Pertamina bersama mitranya. Kompetisi yang sehat akan menghasilkan pelayanan dan harga terbaik buat konsumennya. Pasar telekomunikasi di Indonesia sudah menjadi buktinya.

Harga minyak dan harga pangan dunia menjadi tantangan berat. Meskipun pemerintahan yang dipimpinnya ingin mencari solusi yang tidak membebani masyarakat dan secara sosial-politik tidak berisiko tinggi, yaitu dengan tidak menaikkan harga BBM, opsi itu tidak dimungkinkan. Hingga selesainya APBN-P 2008, SBY tetap bertahan tidak menaikkan harga BBM.
Setelah semua opsi dan upaya dijalankan, tampaknya posisi APBN 2008 dan kondisi ekonomi nasional tidak akan selamat jika tidak ada kenaikan harga BBM. SBY akhirnya menyetujui kenaikan moderat harga BBM 28,7 persen. Dengan catatan paket bantuan untuk golongan tidak mampu diberikan secara nyata. Meskipun kenaikan BBM 2008 jauh lebih kecil dibandingkan dengan 2005 yang di atas 100 persen, kegaduhan dan perlawanan politik jauh lebih besar.

Politik kita semakin seru. Namun, pikirkan juga jangan sampai kerusuhan semacam 1998 kembali berulang. Ada yang mengatakan bahwa dalam jangka pendek pemerintahan SBY tidak punya pilihan lain, kecuali menaikkan secara terbatas harga BBM. Isu ini lebih dari sekadar logika ekonomi dan hitung-hitungan APBN dan telah memasuki ranah sosial dan politik.

Kebijakan pemerintah tentang pengurangan subsidi BBM ini telah menyentuh emosi dan perasaan rakyat. Emosi inilah yang secara cerdas dan artikulatif dimanfaatkan oleh pihak lain. Inilah hukum dan kerasnya medan politik negeri kita.

Beberapa solusi
Kepentingan untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia, termasuk agar tidak terjadi krisis seperti sepuluh tahun yang lalu, oleh SBY dinilai lebih penting. Kita sarankan untuk jangka tengah dan panjang kepada Presiden SBY dan kabinetnya untuk meletakkan dasar kebangkitan nasional. Ini agar Nusantara bisa bergerak memanfaatkan momen berulang naiknya harga minyak dunia.
Paradigma yang perlu dibangun adalah mengembalikan posisi perusahaan minyak dalam negeri dari pedagang kembali ke penambang dan penyuling. Kalau Pertamina tak sanggup, beri kesempatan berkompetisi dengan badan usaha lainnya, termasuk BUMD.

Dalam waktu setahun-dua tahun ini, mari kita kejar tambahan produksi minyak mentah dan tambahan pembangunan kilang minyak di dalam negeri untuk kita ekspor. Ada beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan oleh presiden, sidang menteri, dan para wakil rakyat yang berwenang membuat kebijakan publik.

Pertama, mari kita manfaatkan temuan peneliti biologi LIPI Bogor berupa bakteri pemakan minyak. Temuan ini tadinya hanya untuk penanggulangan minyak tumpah di laut/sungai. Namun, bisa dimanfaatkan sebagai indikator untuk menemukan di bawah permukaan bumi ada celah minyaknya. Insya Allah lebih murah dibanding dengan teknik pengeboran konvensional.

Kedua, meminta informasi kepada ahli fisika bumi LIPI dan universitas yang memiliki koordinat titik minyak baru yang masih mereka rahasiakan untuk diolah oleh otoritas pelaksana dalam negeri. Perlu kontrak politik agar sumur itu tidak dilelang kepada pihak penambang asing. Sudah cukup banyak asing menguasai ladang minyak Nusantara.

Sekarang saatnya para sarjana GP (gas dan petrokimia), teknik industri, teknik kimia alumnus UI, ITB, Akademi Migas Cepu, dan lain-lain mau digaji dalam satuan rupiah untuk mengangkat minyak mentah dari perut Indonesia.

Kemudian, mereka membangun instalasi kilang minyak di tiga daerah waktu RI dengan menggunakan nikel, aluminium, dan pipa yang diproduksi Krakatau Steel, Bakri Piping, dan lain-lain. Yang kita beli dalam satuan rupiah. Karena kita ingin menjualnya murah juga dalam satuan rupiah.

Ketiga, untuk menambah produksi minyak dalam negeri, sesuai Pasal 33 UUD, mari kita beri kesempatan negara di tingkat lokal (pemda) berkompetisi dengan BUMN Pertamina melalui pembuatan BUMD eksplorasi dan pengilangan minyak di tiga kawasan waktu Nusantara. Komisi anggaran DPR dan DPRD perlu memberikan prioritas dukungan dana dan kemudahan agar kita bisa menambah produksi minyak dalam negeri dalam waktu 1-3 tahun ke depan. Fondasinya kita letakkan pada 2008 sebagai momen kebangkitan nasional politik perminyakan Nusantara.

Keempat, melakukan diplomasi G to G Pemerintah RI dengan anggota OKI (Organisasi Konferensi Islam) yang menghasilkan minyak, seperti Uni Emirat, Arab Saudi, Qatar, dan Kuwait. Atas dasar persaudaraan Islami dan persaudaraan umat manusia untuk memberikan harga wajar, misalnya 80-97 dolar AS/per barel ketika harga minyak di bursa Singapura, Inggris, atau lainnya bergerak ke angka 120 dolar AS/per barel.

Mari kita imbau alumni Timur Tengah dan semua elemen bangsa melakukan pendekatan yang inspiratif dan elegan. Dengan demikian, Pertamina tidak terpaku hanya membeli minyak mentah dan mengilangnya di luar negeri dengan alasan kapasitas dalam negeri terbatas. Mari Nusantara Bangkit. Kita bisa menambah produksi minyak dalam negeri. Harga minyak dunia naik memberi peluang agar anak negeri berjaya.

Dengan kenaikan harga minyak, kita tanamkan kebangkitan nasional untuk modal membangun Indonesia. Salah satu solusi setelah kenaikan harga minyak adalah menambah produksi minyak dalam negeri dengan membuka kompetisi pengadaan minyak dalam negeri tidak lagi monopoli BUMN Pertamina, tapi juga BUMD dan pemain lokal lainnya.

Sumber; Harian Republika, Sabtu, 24 Mei 2008

0 Responses to “Kenaikan BBM dan Pertaruhan SBY”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

August 2008
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d bloggers like this: