PM Kevin Rudd Datang Jual Gagasan

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Peneliti Senior di Pusat Penelitian Politik LIPI, Jakarta

PM Australia Kevin Rudd akan melakukan lawatan resmi selama tiga hari ke Indonesia mulai 12 Juni 2008. Itu merupakan lawatan kedua PM Rudd ke Indonesia sejak ia terpilih menjadi perdana menteri pada pemilu nasional Australia 24 November 2007. Pada Desember 2007, PM Rudd menghadiri UN Climate Change Conference di Bali.

PM Rudd datang ke Jakarta bukan hanya untuk memperkukuh hubungan bilateral Australia-Indonesia seperti diungkapkannya dalam artikelnya, ‘Indonesia Mitra Penting Australia’, Kompas, 11 Juni 2008, melainkan juga untuk ‘menjual’ gagasannya mengenai Asia Pacific Community yang ingin didirikannya bersama Amerika Serikat (AS), Jepang, China, India, Indonesia, dan negara-negara di kawasan pada 2020. Dalam kunjungannya ke Atomic Bomb Dome di Hiroshima, Jepang, awal minggu ini, PM Rudd juga melontarkan gagasan untuk membentuk Nuclear Non-proliferation and Disarmament Commission sebagai persiapan menjelang proses peninjauan kembali Nuclear Non-proliferation Treaty (NPT) pada 2010.

Australia adalah negara kekuatan menengah di Asia Pasifik yang sering melontarkan gagasan kerja sama multilateral di kawasan. Pada 1960-an Australia melontarkan gagasan Pacific Economic Cooperation Conference (PECC) dan pada akhir 1980-an adalah Australia pula yang melontarkan gagasan pembentukan Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) yang dibentuk pada 1989. Kedua gagasan terbaru yang dijual PM Rudd dalam seminggu terakhir itu menunjukkan betapa ia ingin agar Australia tercatat kembali sebagai negara pelontar gagasan kerja sama ekonomi, politik, dan keamanan di Asia Pasifik.

Paling tidak ada empat tujuan politik luar negeri yang ingin diraih Australia melalui kedua gagasan tersebut. Pertama, terciptanya Australia yang lebih aman. Kedua, terciptanya suatu lingkungan strategis di Asia Pasifik dan Dunia yang lebih aman. Ketiga, terciptanya suatu masyarakat Asia Pasifik yang lebih sejahtera. Keempat, terciptanya suatu dunia yang lebih baik.

Arsitektur keamanan Asia Pasifik
Gagasan PM Rudd mengenai Asia Pasifik Community atau Asia Pasifik bloc yang mirip Uni Eropa dilontarkannya di depan Asia Society Australasia di Sydney, Rabu, 4 Juni 2008. Komunitas Asia Pasifik diharapkan bukan hanya dapat mendorong kerja sama dan aksi dalam menghadapi isu-isu ekonomi, politik, dan keamanan, melainkan juga dapat mengembangkan apa yang disebutnya sebagai genuine and comprehensive sense of community. Diharapkan, komunitas itu menjadi arsitektur keamanan baru yang dapat mencegah terjadinya konflik kepentingan terkait dengan ekonomi, politik, dan keamanan di kawasan Asia Pasifik. Di mata PM Rudd, belum ada mekanisme regional yang mampu mencapai tujuan-tujuan yang disebutnya tersebut.

Gagasan tersebut memang mirip dengan apa yang terjadi di Atlantik Utara ketika beberapa negara Eropa Barat membangun Komunitas Keamanan Pluralistik melalui Treaty of Rome, 1957. Dari awalnya hanya sebagai komunitas yang mengatur penjualan batu bara dan biji besi kemudian berkembang menjadi Masyarakat Ekonomi Eropa, Masyarakat Eropa, Pasar Tunggal Eropa, dan kemudian menjadi Uni Eropa. Sebagai akibat perang atau konflik kepentingan yang datang silih berganti selama beberapa abad di mandala Eropa, negara-negara di kawasan itu amat gandrung dengan upaya untuk meniadakan perang dan menciptakan suatu sense of community agar tercipta apa yang disebut oleh Karl Deutsch sebagai dependable expectation of peaceful change yang bermuara pada terciptanya durable peace, stability and prosperity in the region.

Apa yang digagas PM Rudd memang amat konkret, walau bukan sesuatu hal yang baru. Diskusi dan perdebatan mengenai bagaimana menciptakan suatu arsitektur keamanan di Asia Pasifik yang mampu menciptakan ‘rasa kekitaan’ dan kerja sama demi membangun Asia Pasifik yang lebih damai, stabil, dan sejahtera sudah berlangsung lama. Persoalannya ialah siapa yang menjadi motor penggerak untuk menciptakan mimpi-mimpi indah tersebut. Dalam konteks kekinian, munculnya China dan India sebagai dua raksasa ekonomi, politik, dan pertahanan baru di Asia Pasifik pada awal abad ke-21 memang telah menimbulkan kecemasan sekaligus harapan. Dua kemungkinan yang mungkin terjadi ialah pertama, munculnya China dan India sebagai dua kekuatan besar Asia akan menantang adi daya Amerika Serikat dan tentunya mencemaskan negara-negara lebih kecil di Asia yang selama ini menganggap AS sebagai negara adi daya yang ramah. Kedua, dalam arti positif, China dan India akan bertindak sebagai dinamo-dinamo ekonomi baru yang memberikan keuntungan bagi kawasan Asia bahkan jika kehadiran ekonomi AS di kawasan semakin menurun. Meski China menerapkan economy-first diplomacy terhadap Jepang khususnya dan kepada Taiwan serta negara-negara di kawasan, kekuatan ekonomi China yang memungkinkannya membangun kapabilitas pertahanan yang kuat pada 2020 memang amat mencemaskan negara-negara di kawasan Asia Timur Laut dan Asia Tenggara. Itu semakin merisaukan jika China dan India masing-masing benar-benar mampu membangun Green Ocean Navy dan kemitraan strategis di antara keduanya.

Antisipasi atas lingkungan strategis baru di Asia Pasifik pada paruh pertama abad ke-21 sebenarnya telah dilakukan negara-negara di kawasan, khususnya Asia Tenggara. Pembentukan ASEAN+1 (ASEAN-China), ASEAN+3 (ASEAN+China+Jepang+Korea Selatan), ASEAN Regional Forum (ARF), ataupun gagasan ASEAN untuk membentuk komunitas regional dalam kerangka East Asian Summit yang didukung China dan India atau pun APEC pada dasarnya adalah membangun arsitektur keamanan di Asia Pasifik. ASEAN selalu ingin menjadi motor penggerak atau duduk di kursi pengemudi yang mengarahkan berbagai kerja sama regional tersebut. Dengan adanya gagasan baru Australia mengenai Asia Pacific Community, timbul citra seolah ASEAN gagal dengan ARF dan kerja sama lainnya. Indonesia memang perlu mendengar dan menyimak penjelasan PM Rudd ketika berkunjung ke Jakarta. Meski Indonesia menyambut gembira, belum tentu Indonesia akan menerimanya karena persoalan siapa yang menjadi ‘pemimpin’, ‘penggerak’, atau ‘pengemudinya’ tetap menjadi masalah di ASEAN.

Hubungan bilateral
Selain gagasan Asia Pacicic Community, PM Rudd tampaknya juga ingin menawarkan berbagai kerja sama dengan Indonesia di berbagai bidang yang merupakan implementasi dari bangunan Kemitraan Strategis yang disepakati sejak 2005 dan Traktat Lombok 2006. Itu menunjukkan adanya kesinambungan politik luar negeri Australia dari masa pemerintahan koalisi liberal/nasional di bawah PM John Howard ke pemerintahan buruh di bawah PM Kevin Rudd. Namun, ada perubahan yang mendasar yaitu pemerintahan buruh kini lebih giat membangun kerja sama di bidang lingkungan sejak Australia menandatangani Protokol Kyoto.

Indonesia sudah bekerja sama dengan berbagai negara, termasuk Jepang, terkait dengan upaya penghutanan kembali daerah yang gundul. Tawaran Australia untuk membantu reforestasi di Indonesia tentunya akan disambut baik oleh pemerintah.

Di bidang keamanan, sebagai implementasi Traktat Lombok, tampaknya diskusi untuk memperkuat hubungan militer kedua negara akan semakin digalakkan. Bukan mustahil itu akan bermuara pada penandatanganan kerja sama pertahanan bilateral suatu saat nanti. Namun, Indonesia tentunya keberatan jika kerja sama militer itu meningkat drastis dari intermediate stage (kerja sama latihan militer, pendidikan komando atau sesko, dan saling kunjung antarpejabat militer) ke mature stage (blok pertahanan). Kerja sama di bidang intelijen, imigrasi, dan keamanan maritim tentunya juga akan dibahas.

Hal penting yang perlu dikemukakan Indonesia ialah perlakuan aparat keamanan laut Australia terhadap para nelayan Indonesia yang mencari ikan di laut bebas berdekatan dengan wilayah ZEE Australia. Tidak jarang para nelayan tersebut ditangkap dan kapalnya dibakar walau alat GPS yang nelayan miliki masih menunjukkan mereka berada di laut bebas.

Kita tentunya berharap hubungan bilateral Indonesia-Australia akan semakin baik. Dua negara ini memang sudah ditakdirkan untuk bertetangga sepanjang zaman. Australia bukan lagi ‘usus buntu’ atau negeri ‘down under’ yang dulu dipersepsikan secara negatif oleh sebagian elite Indonesia. Sebagai dua negara kekuatan menengah di Asia Tenggara, sudah selayaknya hubungan tersebut semakin diperkukuh agar tak terombang-ambing lagi oleh isu-isu politik domestik di kedua negara.

Di muat di Media Indonesia, Jumat 13 Juni 2008

0 Responses to “PM Kevin Rudd Datang Jual Gagasan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

%d bloggers like this: