Kesempatan dan Tantangan 2009

Oleh: Dr. Lili Romli
Peneliti Pusat Penelitian Politik LIPI, Dosen Politik UI

Pada Senin malam kemarin, KPU akhirnya mengumumkan partai politik (parpol) peserta Pemilu 2009. Berdasarkan verifikasi faktual yang dilakukan KPU, dari 35 parpol yang lolos verifikasi administrasi, sebanyak 18 parpol lolos menjadi peserta Pemilu 2009.

Ditambah dengan 16 parpol yang otomatis menjadi peserta pemilu 2009 karena memenuhi ketentuan Pasal 315 dan 316 huruf d Undang-Undang (UU) No 10 Tahun 2008 tentang Pemilu anggota DPR,DPD,dan DPRD, jumlah parpol peserta Pemilu 2009 sebanyak 34 parpol. Bertambahnya jumlah parpol peserta Pemilu 2009 sudah diprediksi oleh banyak kalangan.

Menurut Gary W Cox, sebagaimana dikutip Kacung Marijan, ada tiga pertimbangan elite politik mendirikan parpol. Pertama, biaya untuk memasuki arena.Kedua, keuntungan-keuntungan yang didapat manakala duduk di dalam kekuasaan. Ketiga, adanya kemungkinan untuk memperoleh dukungan dari pemilih.

Menurut Kacung, semakin kecil biaya yang timbul dari pembentukan partai baru, ditambah adanya keuntungan yang cukup besar di dalam kekuasaan serta masih terbukanya kemungkinan memperoleh dukungan pemilih, semakin besar bagi terbukanya celah bagi pembentukan partai-partai baru.

Berdasarkan ketiga pertimbangan tersebut,tampaknya elite politik kita melihat peluang terbuka lebar sehingga mereka terus mendirikan parpol. Penerapan sistem pemilu proporsional serta ketidakpuasan dan kekecewaan terhadap partai-partai lama menjadi peluang bagi parpol baru untuk memperoleh dukungan dari pemilih.

Elite-elite politik kita tampaknya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu hilang begitu saja. Sebab lain,menurut hemat penulis, yang ikut mendorong bertambahnya jumlah parpol peserta pemilu adalah inkonsistensi UU No 10 Tahun 2008.UU tersebut,yakni dalam Pasal 315 dan Pasal 316 huruf d,selain tetap memberlakukan electoral threshold (ET) 3% bagi parpol yang boleh ikut Pemilu 2009,juga menerapkan aturan parpol yang mendapat kursi di DPR otomatis menjadi peserta Pemilu 2009.

Aturan seperti ini akhirnya membuat 9 parpol lama, meski tidak mencapai ET 3%, bisa langsung menjadi peserta pemilu tanpa proses verifikasi oleh KPU. Dengan banyaknya parpol yang ikut dalam Pemilu 2009, tampaknya penerapan aturan ET 3% tidak berdampak pada pengurangan peserta pemilu.Pada Pemilu 1999,jumlah peserta pemilu ada 48 partai,pada Pemilu 2004 turun menjadi 24 parpol. Namun pada Pemilu 2009 ini,jumlah peserta pemilu bukannya berkurang, tetapi malah bertambah menjadi 34.

Akumulasi Kekecewaan
Banyaknya jumlah parpol peserta pemilu itu akan membuat rakyat bingung. Kebingungan bukan saja bersumber dari jumlah yang banyak, tetapi juga dari segi nama yang hampir sama serta dari ideologi yang tidak banyak berbeda satu dengan yang lainnya.

Kebingungan rakyat tersebut s e m a k i n bertambah karena keberadaan parpol ternyata tidak berbanding lurus dengan fungsi yang diembannya. Parpol ternyata mengecewakan rakyat. Mereka tidak memperjuangkan aspirasi dan kepentingan rakyat, tetapi sebaliknya memperjuangkan partai, kelompok, dan kepentingan pribadi. Gejala ini sangat kasatmata dan menjadi pertanda bahaya bagi demokrasi Indonesia.

Pertama, kehadiran parpol tidak lagi dirasakan fungsinya oleh masyarakat. Berbagai peran yang seharusnya diemban sebuah parpol tidak sedikit yang terbengkalai. Sementara menyangkut artikulasi dan perjuangan kepentingan rakyat, parpol––dalam kapasitasnya sebagai institusi ataupun melalui individu anggotanya––belum menunjukkan performa memuaskan.Aktivitas yang dilakukan parpol saat ini tampaknya lebih pada seputar urusan partai sendiri dan kelompoknya.

Kedua, parpol pada saat ini cenderung lebih mengutamakan kepentingan parsial sesaat ketimbang kepentingan masyarakat dan bangsa. Di dalam praktik politik saat ini faktorfaktor kepentingan golongan,kelompok, pribadi menjadi variabel determinan yang menentukan pandangan dan gerak partai, hal mana terjadi tidak saja di tingkat pusat tetapi juga hingga ke daerah.

Akhirnya, alihalih memperjuangkan kepentingan rakyat atau paling tidak konstituennya, parpol justru cenderung sibuk memperebutkan kekuasaan, jabatan, dan uang. Se-mentara persoalan yang membelit rakyat dibiarkan begitu saja seperti ketidakadilan, kemiskinan, pengangguran, harga kebutuhan pokok yang terus naik, bahkan biaya masuk sekolah yang juga semakin mahal.

Padahal, ketika pendirian partai atau ketika kampanye pemilu selalu yang dijanjikan akan membela dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Parpol yang seharusnya memberikan pelajaran bagaimana beretika yang baik dalam berpolitik dan berdemokrasi malah mempertontonkan moral politik yang rendah.

Para kader partai yang duduk di lembaga perwakilan politik melakukan ”pengkhianatan” dan mencederai hati rakyat dengan ditangkapnya beberapa anggota Dewan yang terlibat dalam tindak pidana korupsi. Selain itu, di antara elite politik partai kerap terjadi ”baku hantam” dan gontokgontokan memperebutkan posisi dan jabatan,baik di tingkat pusat maupun daerah.

Parpol yang seharusnya dapat menyelesaikan konflik yang terjadi dalam masyarakat malah sibuk berkonflik. Semuanya itu akhirnya bermuara pada kekecewaan dan apatisme terhadap parpol. Berdasarkan hasil survei-survei yang dilakukan beberapa lembaga survei, tingkat kekecewaan terhadap kinerja parpol begitu tinggi. Angka potensi golongan putih (golput) pun membubung tinggi.

Ancaman golput tersebut menjadi tanda kesadaran mulai muncul di masyarakat bahwa mereka selama ini hanya dijadikan objek oleh parpol dengan janji-janji manis. Namun setelah berkuasa, janji itu kemudian dilupakan. Bahkan ada yang berpendapat, semua partai berperilaku sama, tidak ada bedanya antara yang satu dengan yang lainnya.Mereka hanya memperalat rakyat hanya untuk mencari dukungan untuk berkuasa. Setelah berkuasa, rakyat dilupakan dan ditinggalkan.

Sikap apatisme masyarakat terhadap parpol harus segera dicarikan solusinya. Saatnya kini parpol benarbenar menunjukkan bahwa mereka bukan aksesori demokrasi yang hanya untuk dipandang, tetapi tidak untuk dinikmati keberadaannya (fungsional).

Bila kondisi seperti itu (aksesori demokrasi) tetap berlangsung, keberadaan parpol sebagai lembaga demokrasi akan teralienasi dari kehidupan riil masyarakat. Ini berbahaya, bukan saja bagi kelangsungan parpol, tetapi juga bagi bertahannya demokrasi.Hal ini karena parpol dalam demokrasi perwakilan merupakan institusi penting yang tidak bisa dipisahkan. (*)

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/opini/dana-kampanye-pemilu-2.html

3 Responses to “Kesempatan dan Tantangan 2009”


  1. 1 Jaringan LSM untuk Indonesia July 9, 2008 at 2:22 pm

    Rencana pemerintah yang akan menerbitkan SKB tentang penghematan energi diharapkan jangan sampai menurunkan produktivitas industri. Seharusnya pemerintah segera melakukan pemetaan terhadap konsumsi energi khususnya listrik di perusahaan dan daerah-daerah.
    Seperti diketahui, pemerintah akan menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) lima menteri, yaitu Menteri Perindustrian, Menteri Energi Sumber Daya Mineral, Menteri Dalam Negeri, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, serta Menneg BUMN mengenai pengaturan jam kerja industri, diharapkan rampung akhir Juli ini. Dengan demikian, kebijakan baru, yang dimaksudkan untuk mengoptimalkan beban listrik tersebut, dapat segera diimplementasikan tiga bulan setelah diterbitkannya SKB.

  2. 2 idra July 10, 2008 at 8:37 am

    kalo kaya begitu berarti seleksi alam terhadap partai politik akan terjadi tetapi masalahnya kita memerlukan waktu yang lebih lama lagi karena sebagian besar warga indonesia masih belum mendapatkan pendidikan yang mencukupi untuk paling tidak mencapai budaya politik yang rasional.

    pertanyaannya,bagaimana mengurangi jumlah golput dalam pemilu kedepan?selain dari perbaikan partai politik itu sendiri.

    mungkin kah kita punya alternatif lain?

    terima kasih

  3. 3 arahman ali July 12, 2008 at 8:59 pm

    parpol hanya sibuk 5 tahun sekali. gak jelas memperjuangkan kepentingan rakyat kecil.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

%d bloggers like this: