Mengapa Popularitas Mega Mengungguli SBY?

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Peneliti Senior di Pusat Penelitian Politik LIPI, Jakarta

Ketika menghadiri seminar internasional mengenai hubungan China dan Asia Tenggara di Xiamen,China, akhir Mei 2008, seorang peneliti politik senior Singapura bertanya kepada penulis,”Bagaimana Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)? ”Penulis jawab, ”Situasi keamanan semakin membaik, tetapi Indonesia kini sedang menghadapi persoalan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan pangan sebagai akibat situasi ekonomi internasional.

”Teman Singapura itu pun berkomentar,” Ah, semua negara juga menghadapi situasi yang sama.Tapi, mengapa banyak negara Asia kinerja ekonominya lebih baik daripada Indonesia? Janganlah faktor ekonomi internasional dijadikan kambing hitam!” Dalam hati, penulis hanya berpikir, benar juga komentar teman Singapura tersebut.

Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke adalah negeri yang kaya akan sumber daya alam,lalu mengapa sebagian besar rakyatnya tetap miskin? Apakah ini suatu kutukan seperti yang sering diungkapkan teman senior penulis, Dr J Kristiadi? Tentu ini bukan kutukan, melainkan ketidakberesan pemerintah dalam mengelola negara.

Hasil survei yang dilakukan Indo Barometer pada 5–16 Juni 2008 terhadap 1.200 responden di 33 provinsi di Indonesia tampaknya menegaskan betapa kecewanya rakyat atas kinerja Presiden SBY. Secara umum, sekitar 60,5% responden tidak puas atas keseluruhan kinerja SBY.

Secara khusus, sekitar 79,1% responden menyatakan betapa kecewanya mereka karena Presiden SBY tidak mampu mengatasi masalah-masalah ekonomi. Secara khusus,survei menunjukkan 50,1% responden menentang terpilihnya kembali SBY pada Pemilu Presiden 2009 mendatang, sedangkan 31,3% masih mendukungnya dan 18,1% belum memutuskan pilihannya.

Survei juga menunjukkan, untuk pertama kalinya mantan Presiden Megawati Sukarnoputri mengungguli Presiden SBY dengan perbandingan 30,4% banding 20,7%.Pada dua survei sebelumnya, Mei 2007 dan Desember 2007, SBY masih unggul atas Megawati,masing- masing 35,3% : 22,6% dan 38,1% : 27,4% (The Jakarta Post, 30 Juni 2008).

Senjakala SBY?
Tampaknya, ada beberapa fakta mengapa popularitas SBY semakin turun. Ini bukan saja karena faktor ekonomi internasional semata, melainkan pemerintah juga sudah semakin kalap.Rakyat tidak akan mengerti mengapa harga BBM sampai tiga kali naik selama pemerintahan SBY.

Alasan BBM dinaikkan untuk mencegah penyelundupan,karena harga minyak dunia naik, untuk mengurangi subsidi, atau untuk membantu rakyat miskin sulit diterima akal sehat sebagian besar rakyat Indonesia. Apalagi pendapatan per kapita rakyat Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara maju.

Citra itu semakin terpuruk ketika demonstrasi mahasiswa menentang kenaikan harga BBM ditangani secara keras oleh aparat keamanan negara. Apalagi, ada kesan peristiwa Monas Kelabu pada Minggu,1 Juni 2008,yang adalah hari lahir Pancasila sebagai peletak fondasi negara kebangsaan justru menghancurkan sendi-sendi kebinekaan bangsa Indonesia.

Bahkan peristiwa itu dipandang oleh beberapa kalangan sebagai politik pembiaran atau politik pengalihan agar demo mahasiswa tidak populer lagi. Politik ketakutan (the politics of fear) juga dilakukan oleh Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) dengan menuduh adanya mantan menteri dan anggota DPR yang terlibat mendukung demo mahasiswa.

Lebih buruk lagi, Kepala BIN Sjamsir Siregar juga menuduh adanya ”menteri sontoloyo”di dalam Kabinet Indonesia Bersatu yang bermukaduadalamsoalkenaikanharga BBM. Kepala BIN yang seharusnya mencegah terjadinya ”pendadakan strategis” dengan memberikan informasi intelijen kepada Presiden agar dapat mengambil keputusan yang akurat, malah menjadi ”komentator” atau bahkan ”eksekutor politik”!

Tak sedikit orang juga bertanya-tanya, mengapa Ferry Julianto yang asisten mantan Menteri Perekonomian Rizal Ramli begitu mudah ditangkap oleh jajaran Polri di Malaysia karena dituduh sebagai dalang demo mahasiswa antikenaikan harga BBM, sementara para pengemplang BLBI yag masih tinggal di luar negeri tidak dapat ditangkap? Padahal,demonstrasi adalah hak demokrasi warga negara asalkan dilakukan tanpa kekerasan,sedangkan pengemplangBLBImelakukankejahatan ekonomi terhadap negara.

Secara kasatmata tampak jelas betapa kekompakan Kabinet Indonesia Bersatu memang porak poranda.Karena kepentingan politik terkait dengan pilkada di berbagai daerah,khususnya di Maluku Utara.Terjadi kegerahan politik antara RI-1 dan RI-2. Demi menjaga popularitas dukungan pada Pemilu Legislatif 2009, para menteri non-Partai Demokrat dan non-Partai Golkar juga membiarkan fraksifraksinya mendukung hak angket DPR RI soal kenaikan harga BBM.

Semua cari selamat demi 2009.Asumsi politik menggoreskan, jika pengelola negara sudah tidak kompak, rakyat akan menjadi korban. Dampak politiknya, citra pemerintahan SBY-JK tentu semakin merosot menuju titik nadir. Ini menunjukkan terjadinya senjakala politik bagi pasangan SBY-JK.Tak aneh jika popularitas SBY dan JK secara sendiri-sendiri juga merosot tajam.

Mengapa Popularitas Mega Naik?
Meningkatnya popularitas Megawati memang dapat dimaklumi.PDIP sejak Pemilu 2004 memang secara konsisten memilih menjadi oposisi loyal terhadap pemerintahan SBY-JK. Partai berlambang banteng ini juga sudah berupaya memperbaiki diri dari kesalahan politik yang dilakukan sebagian kadernya setelah menjadi pemenang pertama Pemilu 1999 lalu.

Tampak jelas betapa Megawati juga berupaya mengubah citranya dari seorang yang dianggap ”ibu rumah tangga” yang tak cakap berpolitik menjadi sosok pemimpin partai yang kredibel. Namun ada beberapa hal yang masih harus ditunjukkan Megawati kepada publik.

Pertama, benarkah tuduhan para mantan kawan seperjuangannya yang sekarang membentuk partai baru yang mengatakan bahwa Megawati masih menerapkan gaya kepemimpinan feodal? Kedua, Mega juga harus menunjukkan bahwa ia bukan ”penonton dan pengkritik” kebijakan pemerintah semata, melainkan membuat karya-karya nyata bagi rakyat.

Ketiga, apa pula rencana kebijakan tandingan dari Megawati jika ia terpilih menjadi presiden pada Pemilu Presiden 2009, dapatkah ia mengangkat harkat ”wong cilik” di pelbagai pelosok Tanah Air dari keterpurukan ekonomi? Rencana kebijakan pertanian apa yang akan digalakkan PDIP untuk mengatasi krisis pangan dunia, selain proyek penanaman jagung yang digalakkan pemerintahan SBY?

Benarkah kader-kader PDIP sudah menemukan jenis padi unggul baru yang mampu menghasilkan produksi yang melimpah? Keempat, bagaimana pula visi Megawati untuk memberi kesempatan kepada tokoh-tokoh muda untuk naik dalam panggung politik Indonesia pada 2009? Ini berarti ia harus memilih calon wakil presiden (wapres) dari generasi muda dan bukan Sultan Hamengku Buwono X yang berada di peringkat teratas calon wapres.

Di tengah kegalauan rakyat akan nasib bhinneka tunggal ika, mampukah PDIP menelurkan program dan kebijakan yang memberi rasa aman di berbagai wilayah Indonesia, khususnya yang pernah mengalami konflik horizontal seperti di Maluku,Maluku Utara, Poso, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah?

Bagaimana pula kebijakannya mengenai masa depan Aceh dan Papua yang lebih realistis dan sesuai dengan keinginan rakyat di kedua provinsi tersebut asalkan tetap di dalam kerangka NKRI? Bagaimana pula program PDIP mengenai mencapai kemandirian Indonesia di bidang ekonomi dan teknologi?

Dapatkah Megawati mewarisi gagasan ayahnya, Bung Karno,sebagai seorang nasionalis berwawasan internasional yang tidak anti-Barat atau antikapitalisme, tetapi berani mengatakan tidak pada investor asing yang hanya akan merontokkan ekonomi Indonesia? Dengan kata lain, mampukah ia berteman dengan ”pasar” tanpa menjual kedaulatan ekonomi Indonesia?

Terakhir tapi penting, popularitas seorang tokoh memang dapat naik atau turun sesuai dengan kinerja politiknya. Dalam setahun terakhir ini tampak jelas terjadinya fluktuasi dukungan terhadap SBY, di sisi lain ada tren terus naik di pihak Megawati.Namun, Pemilu Presiden 2009 masih sembilan bulan lagi, apa pun bisa terjadi.

SBY masih mungkin terpilih jika ia lebih tegas dalam memimpin.Megawati juga masih punya kans walau ia harus meyakinkan pemilih dan khususnya kaum perempuan bahwa ia patut diberi kesempatan kedua kali menjadi pemimpin bangsa.(*)

Sumber: Koran Sindo, Tuesday, 01 July 2008

0 Responses to “Mengapa Popularitas Mega Mengungguli SBY?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

%d bloggers like this: