Archive for August, 2009

Menata Kembali Hubungan RI-Malaysia

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

Indonesia dan Malaysia, meski negara serumpun, ternyata penuh dengan pernak pernik persoalan di antara keduanya. Hubungan kedua negara sejak 1957, tahun kemerdekaan Malaya, bagaikan roller coaster yang naiknya begitu lamban, namun begitu sampai ke puncaknya, langsung terjun bebas secara drastis.

Kilas balik hubungan RI-Malaysia dapat kita lihat dari betapa mesranya hubungan kedua negara saat Malaya merdeka. Saat itu, Singapura masih menjadi bagian dari Malaya. Untuk menjalin hubungan kebudayaan, Presiden Soekarno memberikan cenderamata kepada PM Tengku Abdurrahman piringan hitam Lokananta, yang antara lain berisi lagu-lagu Indonesia. Di antara kumpulan lagu itu adalah “Terang Bulan” karya Sjamsul Bahri yang kemudian disadur menjadi lagu kebangsaan Malaysia. diteruskan membaca

Kembang-kembang Kertas

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

Perjalanan politik Indonesia kembali memasuki lembaran baru. Pemilu Legislatif 9 April 2009 dan Pemilu Presiden-Wakil Presiden 8 Juli 2009 berlangsung damai.

Memang ada riak-riak kecil penghias demokrasi, seperti gugatan-gugatan pada dua pemilu itu, sesuatu yang wajar terjadi pada negara demokrasi. Setelah proses hukum melalui Mahkamah Konstitusi selesai, Selasa (18/8), Rapat Pleno Komisi Pemilihan Umum menetapkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono sebagai Presiden-Wakil Presiden Terpilih untuk masa bakti 2009-2014. diteruskan membaca

Golkar, Bangkit atau Mati

Oleh: Dr. J. Kristiadi
Pengamat Politik CSIS dan Dewan Pengawas PP AIPI

Semangat dan totalitas bangsa Indonesia merebut kemerdekaan digelorakan dengan memilih satu di antara dua pilihan: merdeka atau mati.

Spirit tersebut tampaknya cocok bagi Partai Golkar yang dewasa ini menghadapi situasi kritikal sehingga harus menentukan satu di antara dua pilihan: bangkit atau mati.

Makna bangkit, Partai Golkar bukan hanya harus menjadi partai papan atas, melainkan, dan ini lebih penting, membuat Partai Golkar mempunyai roh yang dapat mengobarkan semangat para kadernya berjuang habis-habisan mewujudkan kesejahteraan rakyat. diteruskan membaca

Pendet dan Rasa Sayang He

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

SETIAP Malaysia menggunakan tari atau lagu yang berasal dari Indonesia untuk iklan-iklan pariwisatanya, setiap kali pula sebagian pejabat dan masyarakat Indonesia marah. Pernyataan yang dikeluarkan pun hampir-hampir sama, “Malaysia mencuri kebudayaan kita,” “Klaim Malaysia tak bisa ditolerir,” “Kita perlu protes keras,”.

Atau bahkan sampai yang paling tidak masuk akal tapi mengundang senyum, “Ganyang Malaysia, Selamatkan Siti Nurhaliza.” Jika dulu kesenian reog ponorogo, lagu Rasa Sayange, kini yang dipersoalkan adalah tari pendet yang dalam khazanah kesenian Bali merupakan ”tari selamat datang”. Diteruskan membaca

Transaksi Politik PDIP-Demokrat

Oleh: Prof. Dr. Syamsuddin Haris
Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI dan Sekjen PP AIPI

Mantan presiden yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputeri akhirnya menerima kunjungan politik Ketua Umum Partai Demokrat Hadi Utomo dan sejumlah pengurus lain.

Apa untung-rugi yang diperoleh jika kedua partai berkoalisi? Spekulasi politik di balik pendekatan yang dilakukan PDIP terhadap kubu calon presiden (capres) terpilih, Susilo Bambang Yudhoyono, pasca-Pemilu Presiden (Pilpres) 2009 sedikit demi sedikit terkuak. Partai Demokrat yang mengusung Yudhoyono memberi sinyal untuk mendukung Ketua Dewan Pertimbangan PDIP Taufik Kiemas sebagai Ketua MPR periode 2009–2014. diteruskan membaca

Golkar di Persimpangan Jalan

Oleh: Prof. Dr. Indria Samego
Profesor Riset Perbandingan Politik LIPI

Kegagalan Partai Golkar mendominasi pemilu legislatif, 9 April 2009, dan kekalahan ketua umumnya, Jusuf Kalla, dalam pemilihan presiden pada 8 Juli 2009 telah membawa bekas “partainya penguasa Orde Baru” ini sungguh-sungguh di persimpangan jalan.

Betapa tidak, sekarang muncul dua pemikiran utama di kalangan elite partai dalam melihat masa depan partai berlambang pohon beringin ini. Pertama, agar Partai Golkar tetap dipandang sebagai sebuah kekuatan politik yang berpengaruh, sudah selayaknya bila ia tetap berada di lingkaran kekuasaan. diteruskan membaca

TNI dan Penanganan Terorisme

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

Saat menerima brevet kehormatan sebagai anggota Baret Merah Komando Pasukan Khusus Angkatan Darat (Kopassus), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, keterlibatan aktif TNI dalam perang melawan terorisme tidak akan mengganggu sistem demokrasi yang sedang berlangsung di Indonesia. Presiden SBY juga mengakui tidak paham jika ada yang berpendapat adanya kemunduran demokrasi jika TNI dilibatkan dalam upaya penanggulangan aksi-aksi terorisme. Bagi SBY, keterlibatan TNI adalah amanat UU.
diteruskan membaca

SH. Sarundajang Menerima Bintang Mahaputera Utama

JAKARTA – Salah satu putra terbaik yang dimiliki Sulawesi Utara, Drs. Sinyo Harry Sarundajang, hari ini, Sabtu 15 Agustus 2009, menerima anugerah tanda penghormatan BINTANG MAHAPUTERA UTAMA yang disematkan langsung oleh Presiden Yudhoyono dalam upacara khusus mulai pukul 10.00 di Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta.

shs-bintang-maha-putra-utama
Tanda kehormatan ini setiap tahun diberikan dalam rangka proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dan pada 2009 diberikan kepada 42 orang yang dinilai berjasa dalam berbagai bidang. diteruskan membaca

Sinyo Harry Sarundajang: The man who brought the world to Manado

Oleh: Primastuti Handayani , The Jakarta Post (Fri, 05/15/2009)

SHSGive the right man the right weapon and you are assured of victory: This claim provides an apt description of the achievement of Sinyo Harry Sarundajang in bringing into being the first ever World Ocean Conference (WOC) and the Coral Triangle Initiative Summit on Coral Reefs, Fisheries
and Food Securities (CTI-CFF).

It was not an easy achievement, though.

Months after he was elected as governor of North Sulawesi, in the province’s first direct gubernatorial election, Sarundajang had to deal with the fallout of the government’s decision to nearly double the fuel price in late 2005.

“During a meeting with the government, governors from all provinces were told to make a breakthrough to help ease the burden on people created by the fuel price hike,” he told The Jakarta Post in an interview at his official residence in the Bumi Beringin area on Tuesday. diteruskan membaca

Gapailah Bintang- Bintang di Langit

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

KITA berdua saja, duduk. Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput—kau entah memesan apa. Aku memesan batu di tengah sungai terjal yang deras—kau entah memesan apa. Tapi kita berdua saja, duduk. Aku memesan rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengkingnya memesan rasa lapar yang asing itu.” (Sapardi Djoko Damono, “Di Restoran”, 1991)

Artikel ini sengaja saya mulai dengan kutipan sajak “restoran” karya Sapardi Djoko Damono, seorang penulis puisi yang amat andal, juga seorang dosen di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Sajak itu bagian dari kata pengantar Sapardi pada buku Membaca Indonesia, hasil suntingan Soegeng Sarjadi dan Sukardi Rinakit terbitan Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS), Jakarta, Januari 2005. diteruskan membaca

Insiden Lagu Indonesia Raya

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

“Indonesia Raya”, lagu ciptaan Wage Rudolf Soepratman, pertama kali diperkenalkan oleh sang penciptanya pada Kongres Pemoeda Indonesia, 26-28 Oktober 1928. Lagu yang terdiri atas tiga oktaf/bagian itu bukan hanya seperti yang kita kenal sekarang, melainkan ada dua bagian bait lagu yang berisi jayalah bangsaku dan juga doa bagi negeri tercinta ini. Kongres yang menghasilkan Soempah Pemoeda itu bukan hanya sepakat atas tiga hal: mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia; bertanah air satu, tanah air Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia, melainkan juga menjadikan lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan bagi negeri yang akan merdeka itu. diteruskan membaca

Problematika Penanganan Terorisme

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

MENANGANI persoalan terorisme merupakan suatu yang amat kompleks dan problematik. Terorisme memang merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan salah satu bentuk gangguan keamanan dalam negeri.

Karena itu, hal tersebut harus ditanggulangi melalui law enforcement atau penegakan hukum oleh aparat kepolisian dan bukan melalui military enforcement. Ini sesuai dengan kaidah Indonesia sebagai negara hukum. Yang jadi persoalan ialah, sejak peledakan bom di Hotel JW Marriott dan The Ritz Carlton di Kuningan, Jakarta, pada 17 Juli 2009, berbagai pihak merasa bahwa terorisme tidak cukup hanya ditangani oleh polisi dan mereka berlomba- lomba untuk ikut serta untuk menanganinya. diteruskan membaca

Next Page »


Kata Bijak Hari ini

HIDUP ADALAH “PILIHAN”, SEGERALAH TENTUKAN “PILIHANMU” ...ATAU “PILIHAN” AKAN MENENTUKAN HIDUPMU.
Nicholas Cage - Death Racer (Movie)

Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI











Jejak Pengunjung