Archive for July, 2009

Kemenangan yang Hambar

Oleh: Prof. Dr. Syamsuddin Haris
Profesor Riset Ilmu Politik LIPI dan Sekjen PP AIPI

Meski masih menunggu keputusan sengketa hasil pemilu oleh Mahkamah Konstitusi, Komisi Pemilihan Umum akhirnya menetapkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono sebagai pemenang Pilpres 2009 dalam satu putaran. Namun, mengapa suasana kemenangan ini terasa agak hambar?

Keberhasilan SBY-Boediono meraih 73,8 juta suara (60,8 persen) dalam pilpres lalu harus diakui sebagai catatan sejarah baru bagi perkembangan demokrasi Indonesia. Melalui dukungan besar itu, Presiden Yudhoyono memperbarui mandatnya untuk kembali memimpin negeri ini selama lima tahun ke depan. Itu artinya periode 2009-2014 merupakan peluang emas Yudhoyono untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa karena jelas tak ada lagi kesempatan ketiga untuk dirinya. diteruskan membaca

Setelah Pemilu 2009 Usai

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

PEMILU legislatif, 9 April, dan pemilu presiden, 8 Juli 2009, baru saja usai, walau masih ada persoalan hukum yang mengikutinya. Berbagai catatan positif dan negatif dapat kita ukir dari Pemilu 2009 ini.

Dari sisi positifnya, pertama, untuk keempat kalinya dalam sejarah politik Indonesia sejak pemilu 1955, kita telah berhasil melaksanakan pemilu secara damai dan relatif demokratis. Kedua, kita juga mencatat bahwa bangsa Indonesia yang amat majemuk ini—dari sisi etnik, agama, bahasa, budaya, status sosial ekonomi dan pendidikan—ternyata mampu melaksanakan demokrasi secara apik. diteruskan membaca

Catatan dari Bom Jumat Kelabu

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

JUMAT (17/7) pagi itu langit tampak begitu cerah dipandang dari kaca jendela Kamar 908 Hotel JW Marriott tempat saya dan anak-anak menginap.

Kebetulan hari itu adalah hari terakhir saya dan Dr. Lesley A Harbon, pengajar di The University of Sydney, Australia, menyelesaikan pemberian peringkat atas aplikasi para calon penerima beasiswa Australian Leadership Awards (ALA) yang jumlahnya 63 orang. Malam sebelumnya Lesley, yang menginap bersama suaminya di kamar 1105, dan saya sudah sepakat untuk bersarapan lebih pagi dan langsung akan menyerahkan hasil itu ke ADS Office di bilangan Kuningan, Jakarta. diteruskan membaca

Setelah Pilpres: Koalisi atau Oposisi?

Oleh: Prof. Dr. Bahtiar Effendy
Guru Besar Ilmu Politik UIN Jakarta Dan Dewan Pengawas PP AIPI

Pemilihan presiden 8 Juli sudah selesai. Meskipun hasil akhirnya masih harus menunggu penghitungan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), dapat dipastikan Susilo Bambang Yudhoyono bakal keluar sebagai pemenang.

Artinya, calon presiden dari Partai Demokrat ini akan (kembali) menduduki kursi kepresidenan untuk periode 2009–2014. Masih banyak hal yang dibicarakan publik berkaitan dengan penyelenggaraan pemilihan presiden kali ini. Sebagian masih mempersoalkan masalah daftar pemilih tetap (DPT) yang memang memprihatinkan itu. Ada juga yang terus memprotes dugaan betapa tidak kompeten dan tidak netralnya KPU. diteruskan membaca

Setelah Pilpres Usai

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

PEMILIHAN presiden (pilpres) langsung baru saja usai. Penghitungan suara secara manual untuk menentukan angka pasti hasil pilpres masih dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Kendati begitu, hasil penghitungan cepat oleh berbagai lembaga survei telah menyatakan pasangan nomor 2, SBY-Boediono, ditengarai akan menjadi pemenang. Sejalan dengan itu, dinamika politik di tiga kubu politik mulai tampak. Di kubu pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto, masih tampak upaya untuk mengungkap adanya berbagai kecurangan yang dilakukan KPU. diteruskan membaca

Arah Politik Golkar Pascapilpres

Oleh: Prof. Dr. Syamsuddin Haris
Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI dan Sekjen PP AIPI

Metode penghitungan cepat yang dilakukan sejumlah lembaga survei mengindikasikan kekalahan telak pasangan Jusuf Kalla-Wiranto. Pasangan yang diusung Partai Golkar dan Partai Hanura ini tak hanya kalah dari SBY-Boediono, melainkan juga dari Mega-Prabowo. Mengapa dan ke mana arah politik Partai Golkar pasca-Pilpres 2009.

Seperti dipublikasikan berbagai media, atas dasar penghitungan cepat tersebut pasangan JK-Wiranto hanya memperoleh sekitar 12 persen suara, atau hanya seperempat suara SBY-Boediono (60 persen), dan tak sampai separoh perolehan suara Mega-Prabowo (26 persen). Padahal pada pemilu legislatif, gabungan perolehan suara Partai Golkar (14,6 persen) dan Hanura (3,6) lebih dari 18 persen. diteruskan membaca

Tantangan Yudhoyono ke Depan

Oleh: Prof. Dr. Syamsuddin Haris
Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI dan Sekjen PP AIPI

Harapan sebagian masyarakat agar pemilu presiden berlangsung satu putaran terkabul. Hasil penghitungan cepat sejumlah lembaga survei mengindikasikan kemenangan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono. Bagaimana kita membaca kemenangan itu, apa saja tantangan ke depan?

Terlepas dari pro-kontra hiruk pikuk kampanye dan perdebatan calon presiden (capres) yang kurang bermutu, juga kinerja KPU yang amat mengecewakan, bangsa Indonesia telah menentukan pilihannya. Sebagian besar rakyat masih memberi kepercayaan kepada Yudhoyono untuk memegang kemudi negeri besar, luas, dan merentang dari Sabang di ujung barat hingga Merauke ini di timur. diteruskan membaca

Pilihlah dengan Hati Nurani dan Pikiran Jernih

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI dan Ketua II PP AIPI

BESOK, Rabu (8/7), merupakan hari yang amat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Untuk kedua kalinya, sejak 2004, seluruh rakyat Indonesia yang memenuhi syarat untuk memilih akan memberikan suara pada pemilihan presiden/wakil presiden langsung.

Mahkamah Konstitusi (MK) kemarin memutuskan bahwa para pemilih yang tidak masuk daftar pemilih tetap (DPT) dapat menggunakan kartu tanda penduduk (KTP) bagi mereka yang tinggal di Indonesia dan paspor bagi mereka yang tinggal di luar negeri, sebagai bukti bahwa mereka dapat memilih di tempat pemungutan suara (TPS) di tempat mereka tinggal. Namun, putusan MK ini masih menimbulkan pertanyaan. diteruskan membaca

Mendorong Partisipasi Politik dalam Pilpres 2009

Oleh: Dr. Lili Romli
Peneliti Pusat Kajian Politik UI dan
Anggota Komisi Pengkajian dan Pengembangan Ilmu PP AIPI

Partisipasi politik selalu menjadi masalah setelah runtuhnya Orde Baru. Jika sebelumnya pada masa Orde Baru partisipasi politik masyarakat dimobilisasi oleh rezim penguasa, maka saat ini variabel partisipasi itu bisa dikatakan hanya tinggal kemauan masyarakat saja.

Kita dapat lihat pada Pemilu 1999, saat semangat rakyat begitu tinggi sebagai salah satu bentuk selebrasi atas kemenangan rakyat dalam bergulirnya reformasi. Golput pada pemilu itu hanya 10,40%. Namun, pada 2004 antusiasme masyarakat terhadap pemilu legislatif mengalami penurunan. Antusiasme masyarakat yang menurun tersebut pada gilirannya berdampak pada tingginya angka golput pada Pemilu 2004 ini. Dalam Pemilu 2004, angka golput menunjukkan hampir seperempat jumlah pemilih, 24,81%. diteruskan membaca

Anatomi Pilihan Presiden 2009

Oleh: Prof. Dr. Mochtar Pabottingi
Guru Besar Riset Ilmu Politik LIPI dan Dewan Penasehat PP AIPI

Saya termasuk orang yang sebelumnya sangat ingin mempertahankan duet Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Kini dengan tiga pasangan yang berlomba—Megawati-Prabowo, Susilo Bambang Yudhoyono- Boediono, dan Jusuf Kalla-Wiranto—hitung-hitungan politik harus dimulai baru lagi.

Kita perlu merumuskan tiga persyaratan bagi negara-nasion yang baik. Dengan itulah kita mengukur kondisi Indonesia selama sepuluh tahun terakhir. Begitu pula modal politik tiap pasangan maupun perangkap-perangkap politik yang harus diwaspadai pada mereka. Analisis dan kesimpulan bisa ditarik dari situ. diteruskan membaca


Kata Bijak Hari ini

HIDUP ADALAH “PILIHAN”, SEGERALAH TENTUKAN “PILIHANMU” ...ATAU “PILIHAN” AKAN MENENTUKAN HIDUPMU.
Nicholas Cage - Death Racer (Movie)

Joint at Milist AIPI

Photobucket

Publikasi-Publikasi AIPI











Jejak Pengunjung